MSE.ID, Bandar Lampung — Komunitas Sahabat Difabel Lampung bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung membuka ruang aman bagi anak disabilitas melalui edukasi kesehatan reproduksi (kespro) dan pencegahan kekerasan seksual yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan orang tua, yang dilaksanakan pada 12 september 2026 di PKBI Daerah Lampung.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Aksi Nyata program GerakDampak Academy Indika Foundation. Edukasi dirancang secara adaptif untuk membantu anak-anak disabilitas mengenali batasan privasi tubuh, sekaligus membekali orang tua dengan pengetahuan mengenai pengasuhan yang aman dan inklusif di lingkungan keluarga.
Program ini berangkat dari masih minimnya fasilitas edukasi inklusif serta kuatnya stigma masyarakat di daerah. Melalui kegiatan tersebut, Sahabat Difabel Lampung dan PKBI Daerah Lampung memberikan ruang belajar yang memungkinkan anak dan orang tua memahami kesehatan reproduksi serta upaya pencegahan kekerasan seksual secara lebih terbuka.
PKBI Daerah Lampung menghadirkan dr. Karina Permatasari dari Klinik Ragom Kencana PKBI Lampung sebagai narasumber utama. Ia memberikan pembekalan mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan kekerasan seksual pada anak disabilitas.
Dalam sesi pendampingan interaktif, anak-anak disabilitas dibimbing untuk mengenali batasan privasi tubuh. Sementara itu, para orang tua mendapatkan wawasan mengenai cara memberikan edukasi dan perlindungan kepada anak secara aman serta inklusif di lingkungan keluarga.
Project Leader Aksi Nyata, Syifa Rahmadinny, mengatakan perubahan pemahaman di tingkat keluarga menjadi salah satu bagian penting dari keberhasilan program tersebut.
“Edukasi ini merupakan langkah awal yang krusial. Selain memberikan pengetahuan dasar batas tubuh yang mudah dipahami oleh anak-anak disabilitas, dampak positifnya langsung terasa pada orang tua. Mereka mulai menerapkan cara mengedukasi dan melindungi anak secara lebih terbuka dan aman di rumah,” ujar Syifa.
Dampak kegiatan tersebut juga dirasakan oleh peserta. Salah satu perwakilan orang tua murid, Ibu Rizki, mengatakan kegiatan membantunya memahami cara berkomunikasi mengenai isu sensitif dengan pendekatan yang lebih tepat kepada anak.
“Jujur sebelumnya saya bingung bagaimana cara memberi tahu anak tentang batasan diri dan kesehatan reproduksi tanpa membuat mereka bingung. Setelah ikut kegiatan ini, saya jadi lebih paham pendekatan yang aman dan perlahan bisa menerapkannya langsung di rumah,” ungkap Ibu Rizki.
Meski dalam pelaksanaannya menghadapi tantangan dinamika di lapangan dan kebutuhan pendalaman materi secara berkala, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar inklusif bagi anak disabilitas dan orang tua.
Melalui kegiatan ini, edukasi kesehatan reproduksi tidak hanya diberikan kepada anak, tetapi juga diperkuat melalui peran keluarga agar pengetahuan mengenai batas tubuh, perlindungan diri, dan pencegahan kekerasan seksual dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, Komunitas Sahabat Difabel Lampung bersama PKBI Daerah Lampung berkomitmen menjaga keberlanjutan program melalui replikasi modul edukasi serta penguatan kolaborasi lintas sektor di wilayah Lampung.
Reporter : Trian Dara Ega Febrina
