MSE.ID, Bandar Lampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digencarkan sebagai upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Salah satu dapur yang menjadi ujung tombak pelaksanaan program ini adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Teluk Betung Timur, Sukamaju Dua yang berlokasi di Jl. Katu 2, Kelurahan Parwata.
Berdasarkan hasil liputan dan wawancara dengan SPPG serta ahli gizi Dapur MBG Teluk Betung Timur, dapur ini setiap harinya menyiapkan 3.064 porsi makanan yang didistribusikan kepada para penerima manfaat. Jumlah tersebut terdiri dari 2.675 penerima manfaat dari siswa sekolah yang sudah termasuk guru, serta 389 penerima manfaat dari kelompok B3 yang mencakup kader.
“Khusus penerima manfaat B3, makanan keringnya dirapel dan dikirim setiap hari Senin dan Kamis,” jelas Suhendra, kepala SPPG Teluk Betung Timur Sukamaju Dua.
Sekolah penerima manfaat pun mencakup sekolah negeri maupun swasta, mulai dari TK, SPS, SD, SMP, hingga SMA. Menunjukkan cakupan program MBG yang menyeluruh tanpa membedakan status institusi pendidikan.
Ahli gizi Dapur MBG Teluk Betung Timur, Ayulia Eka Putri, menjelaskan bahwa penyusunan menu dilakukan dengan mempertimbangkan usia dan kemampuan konsumsi anak.
Untuk anak TK dan siswa SD kelas 1 hingga kelas 3, menu disajikan dengan tekstur makanan yang lebih halus serta rasa yang tidak terlalu beragam. Hal ini dilakukan agar makanan lebih mudah dikonsumsi dan sesuai dengan preferensi anak usia dini.
Sementara itu, untuk siswa kelas 4 hingga kelas 12, menu dibuat dengan cita rasa yang lebih kuat dan variatif, termasuk penggunaan rasa pedas dalam batas yang telah disesuaikan. Menu juga disusun berbeda setiap hari guna memastikan variasi asupan gizi.
Dalam memastikan bahan makanan layak dan aman dikonsumsi, dapur MBG Teluk Betung Timur menerapkan SOP dari Badan Gizi Nasional (BGN) serta standar Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP). Saat ini, dapur tersebut juga tengah menjalani proses sertifikasi dan menunggu terbitnya surat Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Proses penerimaan bahan pangan juga dilakukan secara ketat dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari asisten lapangan (aslap), ahli gizi, akuntan, tim SPPG, hingga admin. Seluruh proses dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Pada bahan pangan seperti ayam dan daging, tim melakukan pengecekan suhu, pengaturan waktu pengemasan, hingga proses pencairan _(thawing)_ sebelum masuk tahap produksi dan pemasakan. Sementara untuk buah-buahan, dapur MBG kerap mengatur waktu kedatangan bahan di sore hari. Buah potong seperti semangka dan melon juga dilapisi plastik tambahan guna mencegah pembusukan dan risiko kontaminasi.
Dengan sistem kerja yang terstruktur dan pengawasan ketat, Dapur MBG Teluk Betung Timur di Sukamaju Dua menjadi salah satu contoh pelaksanaan Program MBG yang mengedepankan kualitas gizi, keamanan pangan, dan keberlanjutan layanan bagi anak-anak sekolah.
Reporter : Azka Fatiha Nasya
Editor : Euis Astrid Khofifah
