GerakDampak Academy Dorong Anak Binaan LPKA Kenali Diri dan Kembangkan Kepemimpinan

Konseling Kelompok ABH LPKA Kelas II Bandar Lampung. Sumber : Doc. PKBI Lampung

MSE.ID, Bandar Lampung — GerakDampak Academy 2026 mendorong anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandar Lampung untuk mengenali diri dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan melalui ruang belajar HARMONI yang digagas Reisa Syahti dalam Aksi Nyata program tersebut.

Aksi Nyata itu diwujudkan melalui dua kegiatan, yakni konseling kelompok bertema “Lead Self” pada 18 Agustus 2026 dan Diskusi Forum Anak ABH bertema “Lead Others” pada 8 September 2026. Kegiatan tersebut menyasar 24 anak binaan berusia 15–19 tahun di LPKA Kelas II Bandar Lampung.

Reisa Syahti merupakan salah satu dari 30 peserta yang terpilih sebagai Sobat Perdamaian GerakDampak Academy 2026 by Indika Foundation. Dalam pelaksanaan Aksi Nyata tersebut, Reisa berkolaborasi dengan PKBI Daerah Lampung dan LPKA Kelas II Bandar Lampung serta mendapat dukungan dari WeUs Connext 2026.

Rangkaian kegiatan mengangkat nilai HARMONI yang diwujudkan melalui sesi “Lead Self” dan “Lead Others”. Keduanya dirancang untuk mendorong anak mengenali diri, memahami dan mengelola emosi, membangun pola pikir terbuka, menghargai perbedaan, serta mengembangkan kemampuan berinteraksi dan memimpin secara positif sebagai bekal untuk kembali dan berkontribusi di keluarga maupun masyarakat.

Mengenali Diri melalui “Lead Self”

Kegiatan pertama dilaksanakan pada 18 Agustus 2026 melalui konseling kelompok bertema “Lead Self”. Sesi ini berfokus pada pengenalan diri, regulasi emosi, serta pembelajaran untuk membangun pola pikir terbuka (open minded).

Dalam kegiatan tersebut, Reisa mengajak anak binaan mengenali potensi diri, memahami emosi yang dirasakan, serta belajar merespons berbagai situasi dengan pola pikir yang lebih terbuka dan positif.

Kegiatan dikemas secara interaktif melalui ice breaking dan berbagai aktivitas edukatif. Anak diberikan ruang untuk berbagi pengalaman, saling mendengarkan, melakukan refleksi, serta belajar mengenali dan mengelola emosi dalam suasana yang aman dan inklusif.

Salah satu anak binaan, A, menyampaikan refleksinya setelah mengikuti kegiatan.

“Hari ini aku belajar bagaimana cara mengenal diri sendiri, belajar mendengarkan teman bercerita, lalu aku juga semakin percaya diri untuk mewujudkan cita-cita menjadi jurnalis”, pungkasnya.

Hasil dari proses konseling kelompok tersebut kemudian menjadi salah satu dasar untuk melakukan pendalaman melalui konseling individu dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.

Mengembangkan Kepemimpinan melalui “Lead Others”

Rangkaian Aksi Nyata kedua dilaksanakan pada 8 September 2026 melalui Diskusi Forum Anak ABH bertema “Lead Others: Belajar Menjadi Pemimpin, Menghargai Perbedaan, dan Tumbuh Bersama.”

Melalui sesi tersebut, Reisa mengajak anak binaan memahami bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga tentang membangun kerja sama, menghargai perbedaan, mendengarkan orang lain, serta mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.

Kegiatan diawali dengan ice breaking untuk membangun keakraban dan melatih komunikasi. Selanjutnya, anak binaan mengikuti diskusi interaktif yang memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman mengenai kepemimpinan, mendengarkan satu sama lain, serta berlatih mengambil keputusan bersama dalam ruang yang aman dan inklusif.

Salah satu anak binaan, ADS, menyampaikan refleksinya setelah mengikuti sesi “Lead Others”.“

Hari ini aku banyak belajar tentang bagaimana cara menjadi pemimpin dan menjadi seseorang yang berintegritas. Melalui sesi ini, aku juga banyak belajar dan mendengarkan teman, serta semakin percaya diri dengan potensiku dalam mencari jati diri setelah selesai masa binaan di LPKA”, jelasnya.

Bagi Reisa, ruang belajar semacam ini penting karena proses pengembangan diri anak tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenali dirinya, menyampaikan pendapat, didengar, serta belajar membangun relasi yang positif dengan orang lain.

“Sebelum memimpin orang lain, kita perlu belajar untuk memimpin diri sendiri. Menjadi pemimpin bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang mampu memahami, mendengar, menghargai, dan tumbuh bersama,” ujar Reisa.

 

Reporter : Syifa Rahmadinny

Editor : Trian Dara Ega Febrina