Weebsperience Hadir di Lampung, Dorong Kreator Lokal dan Cosplayer Tembus Ajang Internasional

Suasana Event Weebsperience. Sumber Foto : MSE.ID

MSE.ID, Bandar Lampung — Suasana riuh langsung terasa di area Mitra 10 Antasari, Lampung, Minggu, (12/04/2026), saat gelaran Weebsperience berlangsung. Musik terdengar dari panggung utama, deretan booth kreator dipenuhi pengunjung, sementara di sudut lain para cosplayer dengan kostum mencolok berjalan percaya diri, menarik perhatian siapapun yang lewat.

Event pop culture ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi ruang berkumpul bagi para penggemar sekaligus kreator untuk mengekspresikan diri. Di tengah ramainya acara, Project Manager Dungeon Kreatif, Chandra, menyebut Weebsperience memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda.

“Jadi kita meng-highlight experience orang-orang yang suka pop culture. Selain itu, yang jadi nilai jual utama di sini adalah creator market,” ujarnya.

Berbeda dengan event serupa, seluruh produk yang dijual di sini merupakan karya orisinal. Mulai dari gantungan kunci, ilustrasi, hingga berbagai merchandise lainnya, semuanya dibuat langsung oleh kreatornya.

“Semua yang dijual di sini 100 persen original, tidak ada bootleg atau jiplakan. Tujuan utama kita memang untuk mendukung kreator lokal,” kata Chandra.

Bagi para kreator, kehadiran event ini menjadi angin segar. Selama ini, banyak dari mereka harus pergi ke luar daerah untuk bisa memasarkan karya. Kini, mereka memiliki ruang sendiri di Lampung.

“Biasanya mereka harus ikut event di Jawa, sekarang kita hadirkan tempatnya di sini,” tambahnya.

Tak jauh dari area booth, sorotan lain datang dari panggung cosplay. Salah satu peserta, Kusanagi, tampil dengan kostum karakter Madara Uchiha, lengkap dengan armor dan properti yang terlihat detail. Di balik penampilan itu, tersimpan proses panjang yang tidak sederhana.

“Untuk kostumnya saya pakai beberapa bahan, mulai dari suede sampai kain bermotif, dan armornya dibuat manual biar bisa dapat bentuk yang mirip,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hampir seluruh bagian kostum dibuat sendiri, termasuk wig dan senjata. “Wig-nya saya crimping dulu, lalu dibentuk pakai kapas supaya bisa jadi spike. Untuk senjata, saya pakai bahan sederhana seperti pipa dan kayu,” katanya.

Totalitas itu tidak datang dalam waktu singkat. Ia mengaku membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan semuanya, termasuk penampilan di atas panggung.

“Persiapannya bisa sampai beberapa bulan, mulai dari kostum sampai koreografi. Gerakan sama efek serangan juga kita latihan dari awal,” jelasnya.

Kompetisi yang diikuti pun bukan ajang biasa. Weebsperience menjadi salah satu lokasi penyisihan Indonesia Cosplay Grand Prix (ICGP), yang membuka peluang bagi peserta untuk melangkah ke tingkat nasional hingga internasional di Jepang.

“Kalau menang di Lampung, nanti lanjut ke Jakarta. Dari Jakarta, pemenangnya bisa dikirim ke Jepang,” kata Chandra.

Di sisi lain, pengunjung yang datang tampak menikmati setiap sudut acara. Ada yang berburu merchandise, berfoto dengan cosplayer, hingga sekadar menyaksikan penampilan di panggung.

Salah satu pengunjung, Karin, yang mengenakan kostum Chasca dari Genshin Impact, mengaku terhibur dengan suasana yang disajikan.

“Seru banget, performanya keren-keren, dari dance sampai penampilan lainnya totalitas semua,” ujar Karin.

Weebsperience bukan hanya tentang keramaian sesaat, tetapi juga tentang bagaimana ruang-ruang kreatif mulai tumbuh di daerah. Dari karya orisinal para kreator hingga panggung bagi para cosplayer, event ini menjadi bukti bahwa industri pop culture di Lampung memiliki potensi besar untuk berkembang.

Reporter : Azka Fatiha Nasya
Editor : Euis Astrid Khofifah