MSE.ID, Bandar Lampung — Kelangkaan susu Ultra High Temperature (UHT) mulai dirasakan di sejumlah daerah, termasuk di Lampung. Minimnya pasokan membuat produk susu kemasan ini sulit ditemukan di tingkat agen hingga pelaku usaha minuman.
Salah satu agen grosir, Toko Salsa, Angga, mengungkapkan kelangkaan mulai terjadi sejak adanya program MBG di awal tahun. Menurutnya, kondisi tersebut membuat distribusi susu UHT menjadi terbatas.
“Sejak MBG, stok mulai susah didapat. Bahkan sekarang bisa sampai tidak kebagian sama sekali karena saking langkanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, tidak semua merek tersedia di pasaran. Namun, dua merek yang paling banyak dicari konsumen saat ini adalah Indomilk dan Ultramilk.
Terbatasnya pasokan juga berdampak pada jumlah stok yang diterima agen. Biasanya, kebutuhan dapat terpenuhi, namun kini terjadi penurunan signifikan.
“Penurunannya banyak, kadang kita tidak dapat stok sama sekali,” jelasnya.
Selain itu, kelangkaan ini turut memicu kenaikan harga dari distributor. Angga menyebut, harga mengalami kenaikan sekitar Rp3.000 per karton. “Ada kenaikan, dari sebelumnya sekitar Rp96 ribu, sekarang kami dapat di harga Rp98 ribu,” katanya.
Di sisi lain, kondisi ini turut dirasakan pelaku UMKM minuman. Salah satu pedagang minuman di sekitar lingkungan kampus Universitas Negeri Islam Raden Intan Lampung (UIN RIL), Rafli menyebut susu UHT merupakan bahan utama dalam hampir seluruh produknya.
“Sangat penting, karena hampir semua minuman yang kami jual menggunakan susu UHT sebagai bahan dasar,” ungkapnya.
Rafli mengaku, kesulitan mendapatkan stok sudah mulai terasa sejak awal tahun, namun semakin parah dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut adanya pembatasan pembelian membuat pelaku usaha harus bersaing untuk mendapatkan stok.
“Sekarang pembelian dibatasi, bahkan kadang harus rebutan. Kalau gak cepat, stok sudah habis duluan,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengatakan kondisi ini belum sampai mengganggu produksi secara total, namun membuat jumlah produksi menjadi lebih terbatas.
“Tidak sampai terganggu, tapi jadi lebih dibatasi. Kita pakai seperlunya saja,” katanya.
Sebagai alternatif, ia mengaku menggunakan susu evaporasi dan susu bubuk full cream. Namun, menurutnya, bahan tersebut hanya sebagai tambahan dan tidak bisa menggantikan peran utama susu UHT.
Rafli berharap ke depan pasokan susu UHT dapat kembali normal dan merata, tidak hanya difokuskan pada kebutuhan tertentu saja.
“Semoga stok bisa lebih banyak lagi dan pembagiannya merata, jadi tidak hanya untuk MBG, tapi pelaku usaha seperti kami juga tetap bisa mendapatkan,” katanya.
Reporter : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah
