MSE.ID, Pesawaran — Kegiatan tasyakuran dan sedekah bumi digelar di Desa Cilimus, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Rabu (30/4/2026), sebagai bagian dari upaya memperkuat kemitraan konservasi perhutanan sosial. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat dan berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Kegiatan yang melibatkan kelompok tani hutan dan pegiat lingkungan ini tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur atas hasil bumi, tetapi juga sarana refleksi bagi masyarakat untuk terus menjaga alam yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Lingga Sakti Damayanti, menyampaikan bahwa kemitraan konservasi yang telah disepakati menjadi langkah penting dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
“Kemitraan ini menunjukkan bahwa masyarakat adalah bagian penting dalam menjaga kelestarian hutan. Ketika diberi ruang dan perlindungan hukum, mereka bisa menjadi penjaga hutan yang paling kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, skema tersebut tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi hijau seperti agroforestry dan ekowisata.
Kemitraan konservasi yang dimaksud telah ditandatangani pada Januari 2025 di kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdurrahman. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam memberikan legalitas bagi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani hutan memaknai kegiatan sedekah bumi sebagai bagian dari praktik menjaga keseimbangan alam.
Ketua SHK Lestari, Agus Guntoro, menjelaskan bahwa tradisi ini berangkat dari kebiasaan sederhana para petani saat panen berhasil.
“Dulu hanya syukuran kecil dan tidak rutin. Sekarang kami kemas lebih luas sebagai bentuk rasa syukur sekaligus refleksi untuk tetap menjaga bumi,” ujarnya.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga diwujudkan melalui pembagian benih kepada sesama petani dan masyarakat sekitar sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan hasil bumi.
“Kami menyadari bahwa kami bukan pemilik bumi sepenuhnya. Karena itu, hasil yang kami dapat juga harus bisa dirasakan bersama, sekaligus menjadi pengingat untuk terus merawat alam,” tambahnya.
Reporter : Syifa Rahmadinny
Editor : Trian Dara Ega
