Ramadan, Momentum Detoks Emosi dan Penguatan Self Control

Foto Al-Quran diatas sajadah. Sumber Foto: Pinterest

Ramadan bukan hanya bulan penuh keberkahan, tetapi juga momentum yang tepat untuk memperbaiki diri, terutama dalam mengelola emosi dan memperkuat self control. Hal ini disampaikan oleh alumnus Psikologi sekaligus aktivis muslimah Back to Muslim Identity (BMI), Syara Tazkia Azzahra, S.Psi.

Menurut Syara, saat berpuasa seseorang menahan lapar dan haus, sementara tubuh dan otak sedang beradaptasi. Ketika tidak makan selama beberapa jam, kadar gula darah menurun. Padahal, gula darah adalah sumber energi utama bagi otak. Akibatnya, konsentrasi bisa menurun, tubuh terasa lemas, dan emosi menjadi lebih sensitif.

Kondisi ini sering disebut hangry, gabungan dari kata hungry (lapar) dan angry (marah). Secara biologis, hal tersebut wajar karena tubuh meningkatkan produksi hormon stres ringan untuk menjaga energi, sehingga respons emosi terasa lebih kuat dari biasanya.

Namun, justru di sinilah puasa menjadi latihan mental. Jika dijalankan dengan kesadaran dan niat yang baik, puasa melatih seseorang untuk memberi jeda sebelum bereaksi, menahan dorongan impulsif, serta lebih peka terhadap perasaan diri sendiri.

Dalam perspektif Islam, puasa memang bertujuan membentuk pengendalian diri dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Artinya, rasa lapar dan haus bukan sekadar ujian fisik, melainkan sarana melatih kestabilan emosi dan kedewasaan sikap. Untuk memahami lebih jauh bagaimana Ramadan berperan dalam detoks emosi dan penguatan pengendalian diri, Syara menjelaskan beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan selama menjalankan puasa.

Ramadan sebagai Detoks Emosi

Syara menjelaskan bahwa Ramadan dapat menjadi momentum detoks emosi karena seseorang tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga belajar mengurangi respons negatif seperti marah, iri, dendam, dan ucapan yang menyakiti.

Saat menahan dorongan impulsif dan memperbanyak refleksi diri, seseorang sedang melatih regulasi emosi. Doa dan zikir yang ditingkatkan selama Ramadan juga membantu menenangkan hati dan menurunkan stres. Karena itu, Ramadan bukan hanya detoks fisik, tetapi juga pembersihan jiwa dari kebiasaan dan respons emosional yang kurang sehat.

Esensi Puasa, Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Syara menegaskan bahwa inti puasa adalah pengendalian diri. Ia mengutip hadis riwayat Ibnu Majah tentang orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus.

Maknanya, puasa tidak hanya dinilai dari menahan makan, tetapi dari perubahan sikap. Jika seseorang masih berkata kasar atau melampiaskan emosi secara negatif, berarti ia baru menjalankan aspek fisiknya. Kualitas puasa terlihat dari kemampuan menjaga perilaku dan emosi.

Peran Lingkungan dalam Pembentukan Sikap

Lingkungan turut memengaruhi keberhasilan pengendalian diri. Merujuk teori social learning, manusia belajar melalui pengamatan dan peniruan. Berada di lingkungan yang rajin beribadah dan saling mengingatkan dalam kebaikan akan membantu menjaga emosi. Sebaliknya, lingkungan yang penuh konflik dapat memicu emosi negatif.

Mengelola Emosi saat Lapar

Merasa lelah atau lebih sensitif saat lapar adalah hal yang wajar. Yang membedakan adalah cara meresponsnya. Jika rasa jengkel langsung dilampiaskan tanpa kontrol, di situlah pengendalian diri tidak bekerja.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:

• Menarik napas sebelum merespons
• Melakukan self-talk positif
• Melatih kesadaran diri (mindfulness)

Mengubah Sudut Pandang terhadap Rasa Lapar

Syara menyarankan agar rasa lapar dimaknai sebagai latihan kesabaran, bukan beban. Sudut pandang ini membantu menjaga respons emosi tetap sehat.

Hal tersebut perlu didukung dengan menjaga pola tidur, evaluasi diri, dan memperbanyak zikir. Dengan begitu, Ramadan dapat menjadi proses pembentukan karakter dan penguatan kesehatan mental, bukan sekadar ibadah ritual.

Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah