Bulan Ramadan menjadi momentum istimewa bagi umat muslim untuk memperbanyak amal kebaikan dan memperbaiki diri. Setiap amal, sekecil apa pun akan bernilai pahala di sisi Allah, dan Allah juga menjanjikan pahala yang berlipat ganda.
Di tengah suasana Ramadan yang penuh keberkahan ini, ada peran besar yang sering kali luput dari perhatian, yakni peran perempuan. Perempuan menjalani “Kerja Lembur Tanpa Libur”, mulai dari menyiapkan sahur, berbuka, mengurus rumah tangga, hingga tetap menjalankan ibadah dalam satu waktu bersamaan.
Di balik itu, tersimpan peluang pahala yang besar, karena di dalam Islam peran keibuan bukan hanya bersifat biologis, tetapi juga strategis. Dari tangan seorang ibu, lahir generasi masa depan umat. Bahkan, pengorbanan seorang ibu dalam mengurus anak-anaknya menjadi sebab perlindungan dari siksa neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah saw.
Menariknya, pada tahun ini momentum Ramadan bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Dengan mengusung tema Internasioanl yakni “Give to Gain”. Secara umum, teme ini dimaknai sebagai pentingnya dukungan masyarakat agar perempuan dapat berkembang di berbagai bidang.
Mahasiswi sekaligus aktivis dakwah kampus di salah satu Universitas di Bandung, Yasmin Aqilah Nur Rachman, menilai bahwa Islam sejatinya telah memuliakan perempuan tanpa bergantung pada momentum tertentu.
“Karena Islam memuliakan perempuan di setiap waktu, bukan hanya dalam satu momentum tertentu,” jelasnya.
Ia memandang bahwa IWD merupakan upaya untuk mendorong kesetaraan dan menghapus diskriminasi terhadap perempuan. Namun, di sisi lain, berbagai persoalan seperti kekerasan, kemiskinan, hingga eksploitasi masih terus terjadi di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, tema “Give to Gain” yang diusung tahun ini memang menekankan pentingnya dukungan terhadap perempuan. Akan tetapi, dalam praktiknya, perempuan kerap didorong untuk berperan dalam sistem ekonomi tanpa sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan mereka.
“Perempuan sering didorong untuk maju di ruang publik, tetapi pada akhirnya diarahkan untuk mendukung roda ekonomi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yasmin juga menyoroti berbagai instrumen internasional seperti Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) yang dinilai belum mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan perempuan.
Ia menilai, standar aturan yang dibuat manusia sering kali tidak konsisten dan memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan sistem yang memiliki landasan yang kuat dan menyeluruh.
“Dalam Islam, aturan berasal dari Allah sebagai pencipta manusia, sehingga sesuai dengan fitrah dan memberikan perlindungan yang hakiki,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Islam menawarkan konsep yang lebih menyeluruh karena tidak hanya menempatkan perempuan sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari sistem yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan negara.
Peran negara, menurutnya, menjadi penting dalam menjamin kesejahteraan dan keamanan perempuan, sehingga mereka tidak terpaksa menjalankan peran di luar fitrahnya hanya karena tuntutan ekonomi.
Selain itu, Islam tidak memaknai kesetaraan sebagai penyamaan mutlak antara laki-laki dan perempuan, melainkan menempatkan keduanya sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
“Yang membedakan di sisi Allah bukan jenis kelamin, tetapi ketakwaannya,” tegasnya.
Di bulan Ramadan, peluang perempuan untuk meraih pahala terbuka sangat luas, baik melalui perannya dalam keluarga maupun di tengah masyarakat. Perempuan tidak hanya berkontribusi dalam ranah domestik, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun generasi dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Dengan demikian, Ramadan tidak hanya menjadi ruang ibadah personal, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali peran perempuan dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Penulis: Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah
