Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga sikap, perilaku, terutama dalam penggunaan media sosial. Di era digital sekarang ini yang dipenuhi arus informasi dan interaksi daring, menjaga lisan dan jari saat berkomuikasi, berkomentar atau memposting menjadi bagian penting dalam menjaga dan menentukan kualitas puasa.
Mahasiswa sekaligus aktivis dakwah, Nandang Fathurrohman menjelaskan bahwa secara bahasa puasa berarti menahan diri. Sementara secara istilah, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, serta segala hal yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Ia menambahkan, dalam hadis juga disebutkan bahwa puasa memiliki fungsi sebagai pelindung. Ash-Shiyamu Junnah yang berarti puasa adalah perisai, yang artinya puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melindungi diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak baik.
Menurut Nandang, tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Karena itu, makna puasa seharusnya tidak berhenti pada aspek fisik saja, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital.
Ia menyebutkan bahwa konsep yang kini sering disebut sebagai puasa digital pada dasarnya merupakan upaya menjaga diri dari perilaku negatif di media sosial, seperti menahan diri dari komentar kasar, perkataan yang tidak berguna, hingga konten maksiat yang dapat merusak nilai dari ibadah. Beberapa puasa digital yang dapat dilakukan antara lain, sebagai berikut.
1. Mengecek Kebenaran Informasi
Nandang juga menekankan pentingnya kemampuan seseorang dalam memfilter informasi di tengah derasnya arus berita di media sosial. Dalam menerima informasi tidak langsung diterima dan dipercaya begitu saja. Menurutnya, perlunya prinsip tabayyun atau mengecek kebenaran informasi sangat penting untuk menghindari penyebaran informasi hoax.
Ia menjelaskan, sebagaimana merujuk pada pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
2. Menjaga Perkataan baik Secara Langsung maupun Tulisan di Media Sosial
Lebih lanjut, Nandang menjelaskan bahwa kualitas puasa seseorang juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia menjaga perkataan. Hal ini tidak hanya berlaku pada ucapan secara langsung, tetapi juga pada tulisan di media sosial.
Ia mengutip hadis yang menjelaskan bahwa orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta atau perbuatan sia-sia saat berpuasa tidak mendapatkan nilai ibadah dari puasanya.
“Bisa jadi seseorang menahan lapar dan haus seharian, tetapi yang didapatkan hanya lapar dan haus saja. Ini karena ia tidak menjaga lisannya, termasuk melalui tulisan di media sosial,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berkata kasar atau melakukan ghibah di media sosial tidak serta-merta membatalkan puasa secara hukum. Namun hal tersebut dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala puasa.
Dalam hadis lain juga dianjurkan bahwa seorang muslim sebaiknya berkata yang baik atau memilih diam. Prinsip tersebut menurutnya sangat relevan diterapkan dalam aktivitas bermedia sosial, khususnya selama Ramadan ini.
3. Mengelola Emosi dengan Baik
Di tengah maraknya informasi tentang konflik, bencana, atau berbagai peristiwa yang memicu emosi, Nandang menilai bahwa munculnya rasa marah sebenarnya merupakan hal yang wajar. Emosi merupakan bagian dari fitrah manusia.
Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana seseorang mengelola emosinya. Ketika emosi tidak dikendalikan hingga berujung pada kata-kata kasar atau tindakan merugikan, di situlah muncul masalah.
Untuk mengendalikan emosi, ia menyarankan beberapa langkah sederhana seperti memperbanyak istighfar, mengubah posisi tubuh dari berdiri menjadi duduk atau berbaring, hingga berwudu dan melaksanakan salat.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam Islam orang yang kuat bukanlah mereka yang pandai berkelahi, melainkan yang mampu menahan amarahnya.
“Menahan amarah itu justru menunjukkan kekuatan seseorang. Apalagi saat berpuasa, pengendalian diri menjadi bagian penting dari ibadah,” jelasnya.
4. Memilah Konten dengan Bijak
Terkait terciptanya ruang media sosial yang bersih selama Ramadan, Nandang menilai bahwa tanggung jawab utama tetap berada pada individu masing-masing. Kesadaran pribadi menjadi kunci agar seseorang mampu menjaga apa yang ditulis dan dibagikan di media sosial.
Namun ia juga mengakui bahwa peran lingkungan, keluarga, masyarakat, hingga negara turut berpengaruh dalam menciptakan ekosistem media sosial yang lebih sehat. Menurutnya, pemerintah memiliki kewenangan dalam mengawasi dan menindak konten yang melanggar aturan, tetapi kesadaran individu tetap menjadi fondasi utama.
5. Memanfaatkan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah
Selain itu, Nandang juga mengatakan perlunya mendorong umat Islam untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan menyebarkan kebaikan. Ia mengaku konsisten menyuarakan nilai-nilai Islam di media sosial karena berangkat dari keresahan pribadi melihat berbagai kondisi sosial yang terjadi.
“Keresahan itu membuat saya merasa tidak cukup jika hanya diam. Kita perlu menyuarakan kembali nilai-nilai Islam agar menjadi pedoman dalam kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa kepedulian terhadap kondisi umat, termasuk konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia seperti Palestina, menjadi salah satu motivasi untuk terus aktif menyebarkan pesan-pesan kebaikan di media sosial.
6. Batasi Screen Time dan Buat To do List
Agar penggunaan media sosial tetap terkendali selama Ramadan, Nandang menyarankan untuk membuat daftar aktivitas harian atau journaling. Dengan mencatat kegiatan yang akan dilakukan, seseorang dapat lebih mudah mengatur waktu dan menghindari kebiasaan scrolling yang tidak produktif. Karena kelak seseorang akan dimintai pertanggungjawaban atas media sosial yang ia gunakan dan waktu yang ia habiskan jika banyak yang terbuang sia-sia.
Ia juga menyarankan agar aktivitas harian disusun berdasarkan skala prioritas sehingga waktu selama Ramadan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, atau membaca buku.
Selain itu, menjauhkan ponsel saat sedang beraktivitas dan menonaktifkan nada dering juga dapat membantu mengurangi distraksi.
Di akhir wawancara, Nandang memberikan beberapa tips agar media sosial dapat menjadi ladang pahala. Menurutnya, hal pertama yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa berdakwah merupakan bagian dari tanggung jawab umat Islam.
Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa kepedulian serta bergabung dengan komunitas atau lingkungan yang positif agar konsistensi dalam menyebarkan kebaikan tetap terjaga.
“Jangan takut atau malu untuk memposting kebaikan selama itu sesuai dengan syariat. Jangan sampai kita kalah dengan konten-konten yang tidak bermanfaat,” ujarnya.
Menurutnya, jika media sosial digunakan dengan kesadaran, kepedulian, serta niat untuk menyebarkan kebaikan, maka platform tersebut tidak hanya menjadi tempat berbagi informasi, tetapi juga dapat menjadi sarana dakwah dan ladang pahala selama Ramadan.
Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah
