MSE.ID, Bandar Lampung — Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung menggelar kegiatan sosialisasi kepada mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Society (ESo) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) RAYA (Respect and Advocation Youth Association) Universitas Lampung (Unila) pada Rabu (08/04).
Kegiatan yang bertajuk “SOGIESC Awareness: Fostering Understanding and Inclusivity in Student Communities” dengan target ini berlangsung di Graha Mahasiswa Unila yang diikuti oleh kurang lebih sebanyak 15 mahasiswa UKM ESo dan PIK R.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait keberagaman identitas, khususnya dalam konsep SOGIESC (Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression, and Sex Characteristics), yang dinilai masih belum dipahami secara utuh di kalangan mahasiswa.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari perwakilan PKBI Lampung, Tri Meilan Purwati yang memaparkan materi terkait SOGIESC.
Dalam pemaparannya, Meilan tidak hanya membahas SOGIESC, tetapi juga Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) sebagai bagian dari hak asasi manusia. HKSR sendiri menekankan bahwa setiap individu memiliki kendali atas tubuhnya serta berhak mendapatkan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang aman dan akurat.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai berbagai aspek dalam SOGIESC, seperti orientasi seksual, identitas gender, hingga ekspresi gender. Dijelaskan bahwa orientasi seksual merupakan ketertarikan emosional, romantis, maupun seksual terhadap individu tertentu, sementara identitas gender merujuk pada kesadaran internal seseorang terhadap dirinya sendiri.
Meilan memberikan sebuah contoh, kalau SOOGIESC diibaratkan seperti boneka jahe atau gingerbread.
“Identitas diibaratkan berpusat di kepala atau pikiran gingerbread. Identity atau identitas menunjukkan bahwa identitas gender seseorang berasal dari pikiran atau perasaan internal mereka,” jelasnya.
Meilan juga menekankan bahwa ekspresi gender merupakan cara individu menampilkan identitasnya kepada orang lain, baik melalui penampilan maupun perilaku. Pemahaman ini penting untuk menghindari stereotip serta penilaian yang hanya didasarkan pada tampilan luar.
Melalui kegiatan ini, PKBI Lampung mendorong mahasiswa untuk memiliki kesadaran diri dan sosial dalam menghargai perbedaan, serta menumbuhkan sikap empati dan toleransi di lingkungan kampus. Sosialisasi ini juga diharapkan mampu menciptakan ruang diskusi yang kritis dan reflektif terkait isu keberagaman.
Salah satu peserta yang hadir, Ami yang merupakan mahasiswa Unila jurusan Hubungan Internasional menyampaikan tanggapannya setelah mendapatkan materi hingga selesai.
“Jujur, aku jadi lebih banyak tau sih. Basicnya aku udah tau beberapa, karena temen-temen aku juga banyak yang klaim dirinya sebagai asex dan sebagainya, aku cuma tau dasarnya aja. Nah berkat materi tadi aku jadi tau lebih mendalam dan aku lebih mengerti,” kata Ami.
Meilan juga turut berharap mahasiswa tidak hanya memahami konsep yang disampaikan, tetapi juga dapat berperan sebagai agen perubahan yang mempromosikan nilai kesetaraan dan nondiskriminasi di masyarakat. Dengan demikian, lingkungan kampus dapat menjadi ruang yang lebih inklusif, aman, dan bebas dari stigma maupun diskriminasi terhadap kelompok tertentu.
Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor: Euis Astrid Khofifah
