MSE.ID, Bandar Lampung — Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Sudut Pandang Pers dan Psikolog pada Kasus Child Grooming” pada Senin, 09/02/2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini, bertujuan meningkatkan pemahaman publik sekaligus memperkuat peran media dalam pencegahan kekerasan seksual terhadap anak
Webinar ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus child grooming di Indonesia seiring masifnya penggunaan media sosial dan platform digital oleh anak dan remaja. Minimnya literasi digital serta rendahnya kesadaran orang tua dan pendidik dinilai memperbesar kerentanan anak terhadap praktik manipulatif yang berujung pada eksploitasi seksual, baik secara daring maupun luring
Dalam konteks tersebut, PKBI menilai peran pers sangat strategis dalam membentuk persepsi publik. Pemberitaan yang sensasional dan tidak berperspektif korban berpotensi memperparah trauma penyintas serta menimbulkan stigma sosial. Sebaliknya, praktik jurnalisme yang sensitif terhadap korban dinilai mampu mendorong kesadaran masyarakat, pencegahan kekerasan seksual, serta penguatan sistem perlindungan anak
Webinar ini menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda. Narasumber pertama, Akademisi Ilmu Komunikasi Program Studi Hubungan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Riau, Sandiko Daris Prasetyo, M.I.Kom., membahas etika wawancara dan penulisan berita kasus child grooming. Ia menekankan pentingnya menjaga identitas dan martabat korban tanpa menghilangkan nilai informasi dalam pemberitaan
“Peran pers dalam konteks yang lain memiliki tugas menyampaikan tanggapan dari pihak yang terlibat, seperti contohnya dalam kasus novel Broken Strings, itu dapat menjadi jembatan komunikasi menyampaikan kebenaran informasi dan menghindari manipulasi informasi,” kata Sandiko.
Sementara itu, narasumber kedua, Psikolog dan Akademisi dari Universitas Malahayati, Dary Ies Shabrina, M.Psi., menjelaskan bahwa perspektif psikologis dinilai penting untuk memahami dampak jangka pendek dan panjang yang dialami korban.
“Dampak jangka pendek dan jangka panjang sangat penting dalam perspektif psikologis, mulai dari trauma hingga gangguan relasi sosial di masa depan. Kebanyakan orang grooming itu laki-laki, dan korbannya perempuan yg menjadi sasaran. Tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki bisa menjadi korban,” kata Dary Ies.
Pasalnya kejadian child grooming bisa terjadi karena melalui proses yang panjang. Dary mengibaratkan seperti membangun rumah, yang dimulai dari kedekatan dasar, hingga akhirnya anak memiliki kedekatan dengan orang dewasa tersebut.
Kemudian, ia juga mengulas upaya membangun ketahanan psikologis anak sebagai langkah pencegahan child grooming. Juga upaya untuk melindungi anak dari bahaya child grooming, yang bukan hanya tugas satu pihak semata, melainkan tanggung jawab kolektif yang melibatkan aspek psikologis, peran pendidik, hingga ketahanan keluarga.
Upaya pencegahan lain juga harus dimulai dengan menjadikan orang tua dan pendidik sebagai sosok safe adult atau orang dewasa yang aman bagi anak. Melalui komunikasi yang terbuka, tanpa penghakiman, serta edukasi batasan diri yang konsisten, anak akan merasa aman dalam relasi yang mereka miliki. Hal ini jauh lebih efektif daripada hanya mengandalkan kontrol ketat atau ancaman yang justru bisa menjauhkan anak dari perlindungan orang terdekatnya.
Melalui diskusi ini, PKBI berharap terbangun kolaborasi lintas sektor antara insan pers, psikolog, lembaga perlindungan anak, serta pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi ini juga diharapkan tidak berhenti pada diskusi konseptual, tetapi berlanjut pada rekomendasi praktis, edukasi publik, serta penguatan sistem perlindungan dan pemulihan korban child grooming secara berkelanjutan.
Reporter: Athirah Irbah Izzetya
Editor: Euis Astrid Khofifah
