Perpustakaan dan Komunitas Literasi, Bangun Generasi Literat di Era Digital

Perpustakaan Nuwa Baca Zainal Abidin yang berlokasi di Jalan ZA Pagar Alam No. 52, Labuhan Ratu, Kedaton, Bandar Lampung. Sumber Foto: MSE.ID

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung mencatat adanya peningkatan budaya literasi dan minat baca masyarakat, khususnya pelajar, dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan ini terlihat dari akreditasi perpustakaan yang kini mencapai kategori A, serta meningkatnya aktivitas membaca dan kunjungan masyarakat ke perpustakaan.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Surya Aprina Suud, mengatakan bahwa minat baca masyarakat menunjukkan tren positif berdasarkan pemantauan yang dilakukan instansinya.

“Tingkat membaca sudah meningkat. Hal itu terlihat dari akreditasi perpustakaan yang saat ini sudah A, yang sebelumnya B. Kegiatan membaca dan berbagai aktivitas literasi juga terus meningkat,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (2/6).

Peningkatan juga terlihat dari jumlah kunjungan ke Perpustakaan Provinsi Lampung. Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Liza Tri Handayani, menyebut jumlah pengunjung mengalami kenaikan signifikan sejak perpustakaan menempati gedung baru pada 2023.

Pada 2023, jumlah pengunjung mencapai sekitar 36 ribu orang. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 56 ribu pengunjung sepanjang 2024, atau naik hampir 50 persen.

“Gedung perpustakaan ini sudah menjadi salah satu ikon Provinsi Lampung. Bukan hanya masyarakat Lampung yang datang, tetapi juga ada kunjungan studi banding dari berbagai daerah,” ujar Liza.

Ia menambahkan, perpustakaan kini juga menjadi tujuan kunjungan literasi bagi sekolah-sekolah di Lampung. Bahkan, hampir setiap hari terdapat kunjungan pelajar dari berbagai kabupaten dan kota.

“Sekarang sudah mulai ada kunjungan sekolah setiap hari. Bahkan dalam sehari bisa sampai tiga sekolah yang datang, bukan hanya dari Bandar Lampung tetapi juga dari berbagai daerah di Lampung,” tambahnya.

Dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung menjalankan berbagai program literasi. Selain aktif melakukan sosialisasi melalui media sosial dan media massa, dinas juga menggelar workshop, seminar, bedah buku, serta berbagai perlombaan literasi.

Kegiatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti komunitas literasi, penerbit, serta instansi pemerintah dan swasta.

Selain itu, layanan perpustakaan keliling juga disediakan untuk menjangkau sekolah dan masyarakat yang lebih luas. Perpustakaan juga turut berpartisipasi dalam berbagai program pemerintah daerah bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung.

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, tantangan utama yang dihadapi adalah perubahan pola konsumsi informasi generasi muda yang semakin bergantung pada media digital.

Menurut Liza, kemudahan akses informasi melalui internet sering kali membuat masyarakat mengabaikan pentingnya verifikasi sumber informasi.

“Sekarang masyarakat lebih percaya pada informasi digital. Padahal tidak semua informasi di internet valid. Apalagi dengan perkembangan AI, masyarakat harus lebih cermat dalam memilah informasi yang diterima,” ujarnya.

Suud menambahkan bahwa literasi digital menjadi fokus penting yang terus dikembangkan. Berbagai pelatihan dan edukasi dilakukan agar masyarakat tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya secara aman dan bertanggung jawab.

“Jangan sampai masyarakat menggunakan teknologi digital tetapi tidak memahami literasi digital. Kita ingin masyarakat terhindar dari berbagai bentuk kejahatan digital maupun penyalahgunaan informasi,” kata Suud.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Tito Budi Raharto. Ia menyebut pihaknya rutin berkolaborasi dengan perguruan tinggi, mahasiswa, serta berbagai lembaga, termasuk Bank Indonesia, dalam mengedukasi masyarakat mengenai perkembangan teknologi digital.

“Kegiatan ini dilakukan agar generasi muda tidak menjadi korban maupun pelaku penyalahgunaan teknologi dan informasi digital,” ujarnya.

Untuk menjaga relevansi di era digital, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung terus memperbarui koleksi bacaan serta menyediakan layanan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas.

Pembaruan koleksi dilakukan sesuai dengan kemampuan anggaran. Selain pengadaan buku, perpustakaan juga mengembangkan program donasi buku dengan melibatkan berbagai pihak, seperti organisasi perangkat daerah, perusahaan, BUMN, BUMD, dan masyarakat.

“Kami terus berupaya memperkaya koleksi agar masyarakat mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman,” ujar Suud.

Dengan berbagai upaya tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung berharap budaya literasi terus berkembang, tidak hanya dalam aspek membaca dan menulis, tetapi juga dalam kemampuan memahami, memilah, dan memanfaatkan informasi secara tepat di era digital.

Sementara itu, pegiat komunitas literasi, Rifa Ghania dari Komunitas Literasi Islam, menilai minat baca masyarakat, khususnya anak muda, mulai menunjukkan perkembangan positif, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan.

Menurutnya, kebiasaan membaca buku kini mulai menjadi tren di kalangan anak muda. Meski sebagian masih didorong oleh fenomena mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO), hal ini dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan membaca yang lebih baik.

“Sekarang membaca buku sudah mulai menjadi tren. Walaupun mungkin awalnya karena ikut-ikutan, tapi dari situ bisa saja muncul kebiasaan baru untuk benar-benar suka membaca,” kata Rifa.

Ia juga menilai media sosial memiliki pengaruh besar terhadap minat baca. Di satu sisi, media sosial dapat memperkenalkan bacaan dengan cara yang lebih menarik. Namun di sisi lain, paparan berlebihan dapat menurunkan fokus dan kemampuan memahami informasi secara utuh.

Menurut Rifa, tantangan utama dalam meningkatkan literasi saat ini meliputi rendahnya minat baca, keterbatasan akses bahan bacaan, serta tingginya distraksi dari penggunaan telepon genggam.

Melalui komunitasnya, Rifa rutin mengadakan kegiatan book party setiap dua minggu atau satu bulan sekali. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak membaca dan membagikan hasil bacaannya.

“Kami ingin setidaknya setiap peserta mendapatkan satu informasi baru atau satu kalimat yang bermakna dari apa yang mereka baca,” ujarnya.

Rifa berharap semakin banyak masyarakat yang gemar membaca serta mampu memilih sumber informasi yang kredibel di tengah derasnya arus informasi digital.

“Semoga semakin banyak orang yang senang membaca dan bijak dalam memilih sumber informasi. Karena apa yang kita baca akan membentuk cara berpikir kita, dan dari situlah kita bisa menyebarkan informasi yang benar kepada orang lain,” tutupnya.

Penulis: Athirah Irbah Izzetya
Editor: Trian Dara Ega Febrina