Isu child grooming naik ke permukaan bersamaan dengan buku berjudul broken strings karya Aurelie Moeremans—artis blasteran Indonesia—Belgia. Buku tersebut mengisahkan pengalaman Aurelie dengan sosok yang jauh lebih dewasa secara usia darinya. Bukannya dibimbing, Aurelie malah dimanipulasi dan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dengan orang tersebut. Di balik perbincangan yang viral, isu ini menegaskan kembali pentingnya edukasi tentang child grooming dan peran orang tua dalam mencegahnya.
Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Child grooming? Mengutip laman resmi Child Safety Australia, child grooming adalah proses di mana seseorang membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja untuk mendapatkan kepercayaan, dengan tujuan mengontrol dan mengeksploitasi korban. Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan bertahap. Pelaku sering memulai dengan perhatian, empati, dan dukungan emosional yang tampak wajar. Karena hal tersebut, child grooming kerap sulit dikenali dan disadari oleh banyak orang disekitar.
Selain sulit dideteksi karena sering kali dibungkus oleh kasih sayang, alasan lain child grooming sering luput dari perhatian adalah anggapan bahwa relasi tersebut merupakan urusan pribadi atau bentuk hubungan romantis. Pandangan ini membuat banyak orang di sekitar anak tidak melihatnya sebagai masalah serius. Kondisi budaya juga yang menempatkan anak sebagai pihak yang harus patuh kepada orang dewasa turut memperbesar risiko.
Ketika anak merasa tidak nyaman, suaranya kerap diabaikan. Padahal, rasa tidak aman atau kebingungan dapat menjadi tanda awal adanya manipulasi. Seperti dalam kisah yang di buku Broken Strings membuka refleksi bahwa relasi dengan perbedaan usia signifikan dapat menempatkan anak dalam posisi tidak berdaya, terutama ketika kendali relasi lebih banyak dipegang oleh pihak yang lebih dewasa.
Maka dari itu, peran orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak diperlukan. Seperti menyadari pribadi anak yang menjadi lebih tertutup, enggan bercerita, muncul figur dewasa yang sangat dominan, serta perubahan emosi seperti mudah cemas atau menarik diri. Tanda-tanda ini tidak selalu berarti grooming terjadi, namun dapat menjadi peringatan dini.
Dilansir dari Child Safety Australia, komunikasi yang terbuka dan aman juga menjadi kunci utama dalam upaya menghindari child grooming. Anak perlu merasa perubahan emosi seperti mudah cemas atau menarik diri. Tanda-tanda ini tidak selalu berarti grooming terjadi, namun dapat menjadi peringatan dini.
Dilansir dari Child Safety Australia, komunikasi yang terbuka dan aman juga menjadi kunci utama dalam upaya menghindari child grooming. Anak perlu merasa bahwa mereka bisa bercerita tanpa takut disalahkan. Selain itu, orang tua perlu memberikan edukasi tentang relasi yang sehat, batasan fisik dan emosional, serta risiko di lingkungan sosial dan dunia digital.
Orang tua juga harus menghargai perasaan dan intuisi anak. Jika anak merasa tidak nyaman terhadap seseorang atau situasi tertentu, hal tersebut perlu dipercaya dan ditindaklanjuti. Dengan ini, baik orang tua dan anak dapat terhindar dari para pelaku child grooming.
Momentum diskusi publik yang muncul dari buku Broken Strings seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Dengan edukasi yang tepat dan komunikasi yang sehat, anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman dan bermartabat.
Karya : Azka Fatiha Nasya
Editor : Euis Astrid Khofifah
