Menjemput Kemuliaan Malam 1000 Bulan, Mengapa Allah Menyembunyikan Lailatul Qadar?

Orang beribadah di malam hari. Sumber Foto: kabarbantuan.com

Tanpa disadari kita sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan, yang disebut sebagai malam Lailatul Qadar. Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh dengan banyak keutamaan dan keberkahan. Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat pada surat Al Qadar:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (TQS. Al-Qadr ayat 1-5.)

Lailatul Qadar adalah malam yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan, lebih mulia dan utama dari 1000 bulan. Lebih baik dari 1000 bulan artinya lebih dari 83 tahun.

Malam ini terjadi pada sepuluh malam terakhir Bulan Ramadan, utamanya lebih besar peluangnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah bersabda, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.” (HR. Bukhari no.2017)

Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan Lailatul Qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadan, fokus saja perbanyak ibadah. Hal yang seharusnya dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Bulan Ramadan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Ketika kita sibuk mencari tanda malam Lalilatul Qadar, pikiran kita tidak akan fokus meningkatkan ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan, walaupun memang ada tanda-tanda tertentu saat malam Lailatul Qadar. Tanda tersebut di antaranya:

1. Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)

2. Malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.

3. Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no.762)

Kenapa Allah sembunyikan kapan persisnya? Rasulullah SAW pernah keluar untuk memberitahu para sahabat kapan Lailatul Qadar, lalu dua orang sahabat berselisih, dan pengetahuan itu pun diangkat atau dihilangkan. Ibnu Katsir menjelaskan, bukan malamnnya yang hilang. Tapi kepastian tanggalnya yang disembunyikan.

Dan hal tersebut bukanlah menjadi suatu hukuman. Itu merupakan kasih sayang Allah. Kalau seseorang tahu persis malam mana dan kapan malam itu tiba, maka ia hanya akan serius di malam itu saja. Dan dengan disembunyikan, Allah memberi alasan untuk sungguh-sungguh dalam beribadah di setiap malamnya.

Allah menyembunyikan Lailatul Qadar bukan untuk mempersulit. Tapi agar kita tidak melewatkan satu malam pun, karena setiap malam bisa jadi malam itu.

Mulai malam ini, cobalah satu hal kecil yang konsisten, sebelum tidur, luangkan 10 menit untuk membaca doa yang diajarkan Rasulullah untuk Lailatul Qadar,

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku)

Kemudian lanjutkan dengan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 3x dan memperbanyak zikir, selawat disetiap hari dan malamnya.

Hal tersebut bukan karena tahu malam ini adalah malam itu. Tapi karena bisa jadi, malam ini adalah malam itu. Semoga kita bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar itu, dan mari semangat untuk berburu dan bertarung dengan malam untuk mendapatkannya.

Wallahu Alam

Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah