MSE.ID, Bengkulu — Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) daerah Bengkulu melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terkait pengelolaan hutan adat desa yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang diilaksanakan oleh PKBI Bengkulu dengan dukungan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.
Kegiatan FGD dilaksanakan pada Rabu, (15/04) bertempat di aula hotel Dinda Ceria, Lebong, Bengkulu. Kegiatan yang dilaksanakan selama satu hari ini bertujuan untuk mendengarkan dan menghimpun gagasan dan pendapat pengelolaan hutan adat desa Ladang Palembang, kecamatan Lebong Utara, kabupaten Lebong, provinsi Bengkulu sebagai aset komunitas yang didukung Pemda Kabupaten Lebong dan para pihak.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk membangun kesepahaman antar masyarakat dan para pihak untuk berkontribusi dalam pemulihan pegelolaan daerah aliran sungai Sungai Ketahun sebagai penyangga kehidupan masyarakat kabupaten Lebong.
Peserta kegiatan FGD berjumlah 25 orang, terdiri dari unsur dinas instansi terkait yang ada di kabupaten Lebong, perwakilan pemerintah desa, tokoh adat, pemuka masyarakat, perempuan dan warga desa Ladang Palembang, kecamatan Lebong Utara.
Dalam kesempatan ini, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kabupaten Lebong, Obert Mantovani yang langsung hadir dalam kegiatan FGD ini menyampaikan bahwa sangat mendukung kegiatan yang dilaksanakan oleh PKBI Daerah Bengkulu.
“Untuk diketahui bahwa upaya pengelolaan hutan adat di desa Ladang Palembang sudah dimulai sejak lama walaupun dalam perjalanannya tidak seperti yang diharapkan”, ujarnya.
“Kami sebagai pemerintah kabupaten sangat mendukung dengan apa yang dilakukan”, lebih lanjut disampaikan oleh Kepala Bappeda kabupaten Lebong.
Direktur Eksekutif Daerah PKBI Bengkulu, Abdul Salim Ali Siregar menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai rangkaian dari program yang dijalankan oleh PKBI Bengkulu.
“Ada dua hasil yang mau dicapai dari program yang pertama adanya peningkatan status dari hutan adat desa Ladang Palembang dan yang kedua adanya peningkatan kapasitas masyarakat khususnya kelompok-kelompok perempuan dan kaum muda dalam pengelolaan hutan adat desa Ladang Palembang”, jelasnya.
Rep: Syifa Rahmadinny
Editor: Trian Dara Ega
