MSE.ID, Bandar Lampung — Yayasan Penggerak Lingkungan Sosial (YPLS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) soroti rendahnya literasi dan kesenjangan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat yang bertajuk “Belajar untuk Hidup, Menyelaraskan Pendidikan dengan Kebutuhan Masyarakat” di Aula PKBI Lampung, Rabu (15/04/2025).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Bisa Academy Indonesia dan diikuti oleh berbagai perwakilan komunitas, organisasi, dan lembaga , seperti Jendela Lampung, Satu Lensa, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lampung, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Lampung, Turun Tangan Lampung, dan Duta Konselor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL).
FGD ini diselenggarakan sebagai ruang dialog untuk mengidentifikasi kesenjangan antara sistem pendidikan yang ada dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan sosial dan dunia kerja.
Dalam pemaparannya, narasumber Ananta Abimanyu menyoroti rendahnya tingkat literasi di Provinsi Lampung yang bahkan masih masuk dalam kategori less literate.
“Padahal potensi anak muda sangat besar, tetapi wadah untuk mengembangkan diri masih terbatas. Ini yang membuat kemampuan literasi, khususnya memahami apa yang dibaca, masih rendah,” ujar Ananta.
Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data, tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari lulusan Strata Satu (S1), yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan kerja.
Menurutnya, literasi tidak hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, dan mengaplikasikan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi itu bukan sekadar membaca, tetapi bagaimana kita memahami, berempati, mencatat, dan mengevaluasi apa yang terjadi di sekitar kita,” tambahnya.
Sementara itu, pemateri lainnya, Rasyiq Zahi , menjelaskan pentingnya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) sebagai indikator kemampuan literasi masyarakat.
“IPLM masih diukur dari jumlah buku yang didonasikan ke perpustakaan. Padahal nyatanya seharusnya diukur berdasarkan bacaan per tahun, ke depan yang dibutuhkan adalah kemampuan vokasi. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan dari tahu menjadi bisa,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya standar global seperti Programme for International Student Assessment (PISA) dalam mengukur kesiapan individu dalam dunia kerja.
Di sesi berikutnya, Ufaira Nazhifa memaparkan program literasi yang dikembangkan melalui pendekatan empat jenis literasi, yaitu literasi dasar, literasi moral, literasi finansial, dan literasi digital.
“Di era digital, literasi menjadi kunci agar masyarakat bisa berpikir kritis, bijak dalam menerima informasi, serta tidak mudah terpapar hoaks,” ungkap Ufaira.
Ia menambahkan, program ini juga menekankan pentingnya peningkatan kemampuan literasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Program yang diusung melalui inisiatif Lentera Literasi ini berfokus pada penguatan ekosistem literasi berbasis komunitas, dengan melibatkan siswa, guru, orang tua, serta mitra lokal.
Berbagai bentuk implementasi dilakukan, seperti penyediaan pojok baca di sekolah, pelatihan guru dan relawan, hingga pengembangan inovasi teknologi seperti Lentera Tracker dan Digital Content Lab untuk mendukung pembelajaran kreatif.
Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perpustakaan daerah, juga dilakukan untuk memperluas akses bahan bacaan bagi masyarakat.
Salah satu peserta yang hadir, Damayanti Istiazah yang merupakan perwakilan dari Komunitas Turun Tangan Lampung menyampaikan tanggapannya setelah mendapatkan materi hingga selesai.
“Menurut aku kegiatan FGD tadi sangat seru dan bermanfaat. Diskusinya berjalan dengan baik, tadi jugaa ada diskusi kecil yang menurutku bikin peserta aktif menyampaikan pendapatnya masing-masing. Jadi banyak sudut pandang baru yang bisa didapat,” kata Damayanti.
Melalui FGD ini, pihak YPLS berharap dapat dirumuskan rekomendasi strategis yang aplikatif guna mendorong transformasi pendidikan yang lebih relevan, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Reporter : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah
