Tidak terasa, saat ini kita sudah berada di penghujung Ramadan yang tinggal menghitung hari. Sepuluh hari terakhir merupakan puncak yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. Bukan karena merasa senang Ramadan akan segera berakhir, atau semata-mata karena akan menyambut Idul Fitri. Lebih dari itu, yang paling utama adalah banyaknya keutamaan yang terdapat pada sepuluh hari terakhir tersebut.
Tidak ada waktu yang Allah cintai selain pada sepuluh hari terakhir ramadan. Bahkan Rasulullah saw., meningkatkan kesungguhan ibadahnya ketika memasuki periode ini. Beliau menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, membangunkan keluarganya, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadan seharusnya dimanfaatkan dengan memperbanyak amal ibadah. Aktivitas seperti iktikaf, salat malam (qiyamulail), memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, serta meningkatkan sedekah menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Iktikaf sendiri disyariatkan sebagai cara untuk sejenak melepaskan diri dari kesibukan dunia agar seseorang dapat memusatkan hati sepenuhnya kepada Allah.
Namun pada kenyataannya, tidak sedikit orang justru mengalami penurunan semangat beribadah menjelang akhir Ramadan. Fenomena yang sering disebut sebagai Ramadan burnout ini kerap dialami, terutama oleh kalangan anak muda yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, aktivitas organisasi, hingga berbagai agenda sosial seperti buka bersama.
Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh Raihan Akbar Samudra, seorang mahasiswa pascasarjana sekaligus aktivis dakwah kampus. Dengan berbagai aktivitas akademik dan organisasi yang padat, ia menyadari bahwa menjaga keseimbangan antara kesibukan sehari-hari dan kebutuhan spiritual bukanlah hal yang mudah. Meski demikian, ia justru memandang Ramadan sebagai ruang refleksi yang membantunya belajar menjadi pribadi yang lebih matang dan berimbang.
Bagi Raihan, padatnya aktivitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk menurunkan kualitas ibadah. Ramadan justru menjadi momentum untuk belajar mengelola waktu, energi, serta prioritas kehidupan secara lebih bijak. Dalam pandangannya, fenomena kelelahan spiritual yang sering disebut sebagai burnout tidak selalu disebabkan oleh banyaknya aktivitas, melainkan karena kurangnya strategi dalam menjaga konsistensi ibadah.
Semangat yang tinggi di awal Ramadan sering kali tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang untuk menjaga ritmenya hingga akhir bulan. Akibatnya, energi perlahan menurun dan ibadah mulai dijalani sekadar sebagai rutinitas. Kondisi ini membuat sebagian orang menjalankan salat tarawih, membaca Al-Qur’an, atau bangun malam untuk qiyamulail hanya sebatas menggugurkan kewajiban tanpa penghayatan yang mendalam.
Di sisi lain, rasa lelah selama Ramadan merupakan hal yang wajar. Dalam kondisi tertentu, mengambil jeda sejenak justru dapat menjadi cara untuk memulihkan energi dan mengembalikan kesadaran dalam beribadah. Ketika ibadah mulai terasa hanya dilakukan secara fisik tanpa kehadiran hati, momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan menata kembali niat.
Melalui cara tersebut, seseorang dapat memulihkan fokus sehingga ibadah berikutnya dapat dijalani dengan lebih bermakna. Bagi Raihan, kehidupan selama Ramadan dapat diibaratkan seperti merawat sebuah taman. Ibadah menjadi akar dan batang yang kokoh, sementara aktivitas dunia seperti perkuliahan, organisasi, dan berbagai kesibukan lainnya merupakan cabang dan dedaunan yang tetap tumbuh serta produktif.
Keduanya perlu berjalan selaras dan bersumber dari akar yang kuat. Dengan keseimbangan tersebut, Ramadan tidak hanya menjadi bulan untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang memperkuat iman, memperluas ilmu, dan memperkaya pengalaman hidup.
Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah
