MSE.ID, Bandar Lampung — Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Lampung memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah melalui pengawasan di sejumlah titik penjualan ternak di Bandar Lampung.
Pengawasan dilakukan bersama tim gabungan dari Balai Veteriner Lampung, Badan Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Lampung, Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung, akademisi, hingga relawan mahasiswa peternakan.
Pemeriksaan hewan kurban tersebut dilakukan di tiga lokasi, yakni Lapak Sapi Jagabaya Farms di Jagabaya, Lapak Domba Siger House di Sukarame, dan Lapak Kambing di daerah Untung, pada Kamis (22/5/2026).
Kepala Disnakeswan Provinsi Lampung, Lili Mawarti mengatakan, pengawasan dilakukan secara bertahap mulai dari sentra peternakan hingga tempat pemotongan hewan kurban.
“Pengawasan hewan kurban sudah dilakukan sejak H-14 di sentra ternak dan kandang peternak, kemudian H-7 dilakukan pemeriksaan di lapak penjualan seperti yang kita lakukan hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengawasan tahun ini melibatkan 1.229 petugas yang terdiri dari 229 dokter hewan, 377 tenaga teknis peternakan, 413 paramedik veteriner, dan 210 relawan terlatih. Jumlah tersebut meningkat 67 orang dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Lili, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan hewan kurban di Provinsi Lampung dalam kondisi sehat dan layak untuk dikurbankan.
“Hingga saat ini belum ditemukan penyakit berisiko seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Artinya ternak-ternak di Provinsi Lampung sudah sehat, sudah dilakukan pemeriksaan, dan dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan,” katanya.
Saat meninjau Lapak Jagabaya Farms, pihaknya mendapati sebanyak 64 ekor sapi tersedia dan sekitar 60 ekor di antaranya telah terjual. Sapi yang dijual terdiri dari berbagai jenis seperti limosin, simental, dan brahman dengan bobot rata-rata di atas 500 kilogram.
Selain memastikan kesehatan hewan, pengawasan juga dilakukan guna mengantisipasi penyakit cacing hati yang kerap ditemukan saat penyembelihan kurban.
Lili mengatakan, petugas nantinya akan melakukan pemeriksaan sebelum dan sesudah pemotongan hewan kurban. Jika ditemukan organ hati yang terpapar cacing, maka bagian tersebut harus dibuang dan tidak boleh dikonsumsi.
“Kami sudah mengimbau peternak sejak tiga sampai enam bulan sebelumnya agar rutin memberikan obat cacing pada ternak untuk mencegah kasus cacing hati,” jelasnya.
Berdasarkan data Disnakeswan Provinsi Lampung, stok hewan kurban tahun 2026 dipastikan surplus. Ketersediaan sapi mencapai 26.852 ekor, sementara kebutuhan diperkirakan 25.227 ekor. Untuk kambing, stok mencapai 121.376 ekor dengan kebutuhan sekitar 85.770 ekor.
Selain itu, Provinsi Lampung tahun ini juga menerima bantuan kemasyarakatan Presiden berupa 16 ekor sapi kurban yang akan disalurkan ke 15 kabupaten/kota dan satu ekor untuk tingkat provinsi.
Sementara itu, Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana mengatakan pihaknya terus mendukung pengawasan kesehatan hewan kurban bersama pemerintah daerah.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya fokus pada kesehatan ternak, tetapi juga keamanan daging kurban yang nantinya dikonsumsi masyarakat.
“Kesehatan hewan penting, tetapi keamanan daging kurban juga harus dijamin agar aman dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk aktif berkoordinasi dengan dinas terkait apabila terdapat lokasi penyembelihan hewan kurban yang belum terpantau petugas.
Di sisi lain, Kepala BKHIT Lampung, Yadi AR menyebut pihaknya turut memastikan lalu lintas ternak dari Lampung ke berbagai daerah tetap aman dan sehat.
“Lampung tidak hanya memenuhi kebutuhan hewan kurban di daerah sendiri, tetapi juga memasok ke Pulau Jawa dan Sumatera. Karena itu kesehatan ternak yang dilalulintaskan harus dipastikan aman,” katanya.
Sementara itu, pemilik Lapak Jagabaya Farms, Pak Buang mengaku penjualan sapi kurban tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Ia mengatakan harga sapi yang dijual berkisar Rp21 juta hingga Rp23 juta per ekor tergantung ukuran dan jenis sapi.
“Harganya sekitar Rp21 juta sampai Rp23 juta. Jenisnya campur, ada limosin, metal, sama brahman,” ujarnya.
Untuk menjaga kesehatan ternak, dirinya rutin berkoordinasi dengan petugas kesehatan hewan agar seluruh sapi yang dijual tetap dalam kondisi sehat dan sesuai prosedur pemeriksaan.
Reporter : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah
