R.A. Kartini merupakan sosok yang sangat berperan dalam memperjuangkan suara perempuan di Indonesia. Hingga kini, tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini, yang menjadi pengingat bagi perempuan Indonesia untuk terus tumbuh, berdaya, dan setara.
Hadirnya peringatan Hari Kartini menjadi momen untuk mengingat kembali semangat perempuan untuk maju. Semangat tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan diri yang berpotensi memajukan kesejahteraan masyarakat.
Nilai-nilai perjuangan Kartini masih dibawa, hingga terus hidup, dan diuji dalam kehidupan perempuan di Lampung. Salah satunya adalah nilai keberanian perempuan dalam mengungkapkan pendapat melalui tulisan dan surat-menyurat, yang kini tetap hadir dalam kondisi perempuan saat ini.
Ketua Forum Partisipasi Masyarakat dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Provinsi Lampung, Yuli Nugrahani, yang akrab disapa Yuli menyebutkan bahwa keberanian itu harus dibangun oleh semua perempuan tanpa terkecuali.
“Bahkan bentuk tulisan di masa sekarang ini masih menjadi sarana untuk menyuarakan perasaan, pikiran, maupun pendapat tentang ketidakadilan atau ide-ide kreatif lainnya. Saat ini tidak lagi hanya menggunakan media kertas atau buku, tetapi juga melalui media digital yang dapat memberi dampak bagi kemajuan masyarakat,” jelas Yuli.
Keberanian ini harus hadir dalam diri perempuan di Lampung, terutama dalam menghadapi ketidakadilan dan kekerasan. Di tengah berbagai tantangan ini, ketahanan perempuan menjadi kunci dalam menghadapi situasi yang tidak selalu aman.
Kekerasan masih menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi perempuan dan anak. Sepanjang tahun 2025, menurut Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), terdapat 953 kasus kekerasan berbasis gender di Provinsi Lampung. Dari jumlah tersebut, 872 korban adalah perempuan, sementara sisanya laki-laki. Jenis kekerasan yang paling banyak terjadi adalah kekerasan seksual.
Menurut Yuli, meningkatnya kasus kekerasan harus dilihat dari dua sisi. Pertama, kondisi ini masih memprihatinkan. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa semakin banyak korban yang mulai memahami situasinya, memiliki akses bantuan, dan berani memperjuangkan dirinya.
Kekerasan ini sering terjadi di ranah rumah tangga atau keluarga, yang seharusnya menjadi ruang paling aman, namun justru menjadi tempat yang paling sering terjadi kekerasan.
Yuli juga menyebutkan bahwa kasus yang paling memprihatinkan adalah kekerasan dalam rumah tangga.
“Selalu kasus yang paling sering muncul adalah kekerasan dalam rumah tangga. Selalu ada aduan atau laporan yang disampaikan ke lembaga masyarakat, UPT PPA, kepolisian, atau rumah sakit,” sebutnya.
Ia juga menyatakan bahwa pelaku umumnya adalah orang-orang terdekat yang memiliki relasi kuasa terhadap korban.
Maka dari itu, keluarga dan lingkungan seharusnya menjadi pendukung utama dalam perkembangan perempuan. Dalam lingkungan yang memahami perempuan, mereka dapat memperoleh apresiasi yang layak dan membuka ruang lebih besar untuk berperan di masyarakat.
Apresiasi ini menjadi bagian dari ketahanan perempuan yang juga merupakan hasil dari pemberdayaan. “Perempuan yang berdaya adalah mereka yang mampu mengenali dirinya sendiri, termasuk kekuatan dan kelemahannya,” jelas Yuli.
Selain itu, perempuan perlu mengenali dan memenuhi kebutuhannya, serta mendapatkan dukungan yang aman dari lingkungan, baik keluarga, masyarakat, maupun sistem sosial, hukum, dan budaya. Hal ini dapat terwujud jika masyarakat lebih sadar dan mampu menghilangkan stigma negatif terhadap perempuan.
Masalah lain yang muncul adalah kesenjangan kesejahteraan akibat keterbatasan akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi. Kondisi ini dapat memicu persoalan seperti perdagangan orang dan marginalisasi ekonomi.
Tantangan terbesar dalam memperjuangkan kesejahteraan perempuan adalah pendidikan tentang keadilan sosial, kesetaraan gender, dan inklusi sosial. Hal ini masih menjadi PR bagi PUSPA untuk memperkuat peran dan dampaknya.
Beruntungnya, di tengah berbagai tantangan tersebut, masih ada komunitas-komunitas yang mendorong perempuan untuk terus maju. Komunitas ini tidak hanya menjadi ruang berbagi, tetapi juga ruang penguatan melalui relasi yang saling peduli dan saling percaya antarperempuan.
PUSPA Lampung juga merespon hadirnya berbagai tantangan tersebut dengan berjejaring sekitar 40 lembaga dari organisasi masyarakat, media, dan pemerintah. Kerja sama ini dilakukan untuk memperkuat pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Provinsi Lampung, termasuk di tingkat kabupaten dan kota.
Program yang dijalankan meliputi edukasi dan sosialisasi melalui lembaga anggota, serta kerja sama dengan berbagai pihak, seperti media dan siaran podcast di radio.
Kerja sama dengan pemerintah menjadi fokus utama, terutama dengan dinas PPPA di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. PUSPA tidak hanya menjalankan program bersama, tetapi juga memberikan masukan dan kritik terhadap kebijakan yang ada.
PUSPA juga berperan sebagai pendukung bagi korban kekerasan melalui kolaborasi antar lembaga. Pendampingan tidak selalu dilakukan secara langsung, tetapi melalui lembaga anggota yang aktif.
Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai tantangan, harapan bagi perempuan di Lampung terus tumbuh.
Yuli berharap perempuan semakin tangguh, hidup bahagia sesuai dengan potensi yang dimiliki, serta mampu menjaga keseimbangan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
“Semoga semangat Kartini tidak hanya diwujudkan secara simbolik, tetapi juga dalam tindakan nyata dengan berani bersuara, menulis, dan menyebarkan gagasan. Para perempuan, ayo menulis seperti Kartini,” harapnya.
Reporter : Trian Dara Ega
