Perayaan Jumat Agung menjadi momen sakral dalam rangkaian Tri Hari Suci umat Katolik yang meliputi Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah. Momen ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga merepresentasikan inti iman Kristiani, yakni sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai bentuk penebusan dosa manusia.
Pastor Romo Totok dari Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton menjelaskan bahwa Jumat Agung tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan rangkaian Tri Hari Suci. “Ini inti iman Kristiani, di mana Kristus menebus dosa manusia melalui sengsara, wafat, dan kebangkitannya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa Kamis Putih menjadi awal dari pengorbanan tersebut, ketika Yesus dalam Perjamuan Terakhir menyerahkan diri-Nya sebagai santapan rohani bagi umat manusia. “Penyerahan diri ini dinyatakan dalam pengorbanannya di atas kayu salib, sebagai kesempurnaan cinta-Nya pada umat manusia,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaannya, ibadah Jumat Agung terdiri dari tiga bagian utama, yakni ibadat sabda, penghormatan salib, dan komuni kudus. Rangkaian ini menjadi ruang refleksi iman yang mengajak umat untuk merenungkan secara mendalam makna penderitaan dan pengorbanan Kristus.
Pemaknaan Jumat Agung juga dirasakan secara personal oleh kalangan muda. Seorang mahasiswa Katolik, Yusa, memandang Jumat Agung sebagai puncak pengorbanan Yesus Kristus dalam menyelamatkan manusia. “Saya memaknai perayaan ini sebagai awal dari kemenangan Kristus, yang mengubah arti salib dari simbol kehinaan menjadi kemenangan melalui kerendahan hati dan kasih,” ungkapnya.
Ia menyebut momen paling berkesan adalah saat pembacaan kisah sengsara atau Passio, ketika umat diajak mengenang perjalanan penderitaan Yesus menuju Golgota. “Di momen ini, kita benar-benar diajak merasakan penderitaan-Nya. Tidak sedikit umat yang tersentuh, bahkan menangis dan merenungkan kehidupan pribadi,” katanya.
Namun demikian, ia menilai bahwa pemahaman generasi muda terhadap makna Jumat Agung masih menghadapi tantangan. “Anak muda sekarang cenderung belum mendalami arti pengorbanan yang sesungguhnya. Padahal, pengorbanan bukan hanya tentang berbuat baik kepada yang baik kepada kita, tetapi juga kepada mereka yang membutuhkan tanpa mengharapkan balasan,” ujarnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk menjadikan Jumat Agung sebagai momentum pembaruan diri. “Kita diajak untuk memanggul salib kita masing-masing, yaitu tanggung jawab moral untuk menjadi damai dan kasih bagi sesama,” tambahnya.
Senada dengan itu, Romo Totok juga mengingatkan agar umat menyambut perayaan Paskah dengan hati yang baru. “Mari kita sambut Paskah kebangkitan Tuhan dengan hati yang baru, hati penuh kasih pada sesama,” pesannya.
Dengan demikian, Jumat Agung tidak hanya dimaknai sebagai peringatan atas penderitaan, tetapi juga sebagai ajakan untuk menghadirkan kemenangan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Azka Fatiha Nasya
Editor : Euis Astrid Khofifah
