Bukan Cuma Kurang Tidur, Ini 5 Penyebab Tersembunyi Mengapa Tubuh Selalu Merasa Lelah

Ilustrasi pekerja yang mengalami kelelahan. Sumber Foto : PKBI Lampung

Pernahkah Anda merasa energi langsung terkuras habis begitu bangun pagi, padahal sudah tidur selama delapan jam penuh? Rasa lelah yang terus-menerus menempel ini sering kali membuat kita frustrasi.

Secara otomatis, kita biasanya langsung menyalahkan durasi tidur yang dirasa kurang. Namun, ketika waktu istirahat sudah diperbaiki tetapi tubuh tetap terasa loyo, sudah saatnya kita melihat lebih dalam ke arah kebiasaan sehari-hari yang sering kali luput dari perhatian.

Faktanya, rasa lelah kronis merupakan sinyal kompleks dari tubuh yang dipengaruhi oleh banyak faktor di luar jam tidur. Jika kita sudah tidur cukup tetapi masih sering menguap di tengah aktivitas, bisa jadi tubuh kita sedang merespons gaya hidup yang kurang seimbang.

Mengatasi hal ini membutuhkan kepekaan untuk mengenali sinyal-sinyal tubuh. Penyebab tersembunyi yang pertama adalah dehidrasi ringan. Banyak dari kita baru minum ketika rasa haus yang hebat melanda, padahal itu adalah tanda tubuh sudah mulai kekurangan cairan.

Ketika tubuh kekurangan air, volume darah akan menurun sehingga darah menjadi lebih kental.

Akibatnya, jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah dan mengalirkan oksigen serta nutrisi ke seluruh organ, termasuk otak. Kerja berat organ jantung inilah yang perlahan menguras energi kita.

Selain masalah cairan, konsumsi karbohidrat olahan dan gula yang berlebihan juga memegang kendali penuh atas energi kita. Makanan seperti roti putih atau minuman manis memang memberikan lonjakan energi instan karena gula darah naik drastis. Namun, lonjakan ini akan diikuti oleh penurunan kadar gula darah secara menukik tajam (sugar crash). Siklus naik-turun yang ekstrem inilah yang membuat tubuh kita lemas dan tidak bertenaga sepanjang hari.

Faktor ketiga dan keempat bergeser pada aspek psikologis serta aktivitas fisik, yaitu stres kronis dan kurang bergerak. Saat mengalami stres berkepanjangan akibat tekanan kerja, tubuh terus memproduksi hormon kortisol yang menguras energi layaknya mesin mobil yang menyala semalaman.

Ironisnya, saat lelah kita cenderung memilih rebahan, padahal gaya hidup sedenter (kurang bergerak) justru memperlambat sirkulasi darah. Olahraga ringan sebaliknya dapat memicu endorfin dan mendongkrak stamina.

Penyebab tersembunyi yang terakhir berkaitan dengan lingkungan digital, yaitu paparan blue light sebelum tidur. Kebiasaan bermain gawai atau menonton televisi di atas kasur dapat merusak kualitas tidur itu sendiri.

Cahaya biru dari layar gawai menekan produksi melatonin, hormon penentu jam tidur tubuh. Akibatnya, meskipun Anda memejamkan mata selama delapan jam, otak tidak benar-benar masuk ke fase tidur dalam (deep sleep), membuat kita bangun dengan tubuh yang terasa remuk.

Untuk mengatasi rasa lelah ini, kita bisa memulainya dari langkah kecil yang konsisten. Cobalah meletakkan botol minum di meja kerja agar memicu kita lebih sering minum, serta berkomitmen mematikan semua layar gawai minimal 30 menit sebelum tidur.

Selain itu, ganti camilan manis dengan kacang-kacangan atau buah segar untuk menjaga stabilitas energi, dan luangkan waktu 15 menit sehari untuk berjalan kaki demi melancarkan sirkulasi darah.

Penulis : Tri Wahyuni
Editor : Euis Astrid Khofifah