Mengawali tahun 2026, jagat media sosial dan dunia literasi tanah air dihebohkan oleh rilisnya memoar digital berjudul “Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah” oleh aktris Aurelie Moeremans. Buku yang dibagikan secara gratis ini bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah pengakuan berani mengenai trauma hebat yang dialami sang aktris di masa remaja.
Dalam buku setebal 24 bab tersebut, Aurelie menceritakan hubungannya ketika ia berumur 15 tahun dengan pria dewasa menggunakan nama samaran Bobby yang berusia hampir dua kali lipat darinya. Buku ini mengungkap bagaimana pelaku mengisolasi Aurelie dari keluarga, mendikte cara berpakaian, hingga melakukan kekerasan fisik seperti memukul kepala dengan benda tumpul dan menginjak wajah, bahkan bagian paling emosional adalah bab yang menceritakan bagaimana ia dipaksa menandatangani dokumen pernikahan di bawah ancaman maut terhadap orang tuanya.
Viralnya buku ini menyeret nama aktor ber-inisial RT, meski dalam buku hanya menggunakan nama samaran, netizen langsung mengaitkan karakter Bobby dengan RT berdasarkan garis waktu kejadian.
Melalui unggahan di Instagram Januari 2026, RT tegas membantah tuduhan tersebut, “Silakan tulis apa pun untuk jualan buku, tapi hukum punya bukti otentik, pernikahan itu tercatat secara negara dan gereja. Tidak ada paksaan seperti yang didramatisir.” Diunggah pada salah satu postingan klarifikasi RT.
Setelah buku yang dirilis Aurelie ini viral dan ramai pembaca netizen beramai-ramai memberikan dukungan kepada Aurelie melalui kolom komentar di akun Instagram Aurelie, “Kamu hebat karena mau bertahan dan bangkit, semoga tuhan selalu lindungi kamu dan keluarga kecilmu” ucap akun @ritaadwi dikolom komentar Instagram Aurelie.
Berita viral ini memicu pandangan berbagai ahli terkait fenomena yang diangkat oleh Aurelie.
Dikutip dari TribunNews menurut pakar psikolog klinis Rini Hapsari Santosa, M.Psi., ia menilai bahwa apa yang dialami Aurelie adalah bentuk kekerasan yang sistematis. Grooming sering kali tidak disadari korban karena pelakunya sering tampil sebagai sosok yang sangat suportif di awal hubungan.
Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan pegiat literasi menggunakan momentum ini untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya manipulasi emosional pada anak di bawah umur yang sering kali berlindung di balik label “cinta”.
Reporter: Awalludin Sultan Yusuf
Editor : Euis Astrid Khofifah
