Setelah hampir satu tahun telah beroperasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia, dan memasuki bulan ketiga di Kecamatan Teluk Betung Timur terus menunjukkan progres yang signifikan.
Di tengah ramainya isu nasional mengenai kesenjangan nasib antara petugas MBG dan guru honorer, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda terkait operasional dan status kepegawaian di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menanggapi isu adanya penolakan dari pihak sekolah terhadap program ini, pengelola dapur MBG di Teluk Betung Timur memberikan tanggapannya, Kepala Bagian SPPG, Suhendra Wijaya, S.KM., mengungkapkan bahwa respon sekolah di wilayahnya justru sangat positif.
“Alhamdulillah, dapur ini bukan ditolak, tapi justru sangat ditunggu. Karena di Kecamatan Teluk Betung Timur ini, kita adalah dapur kedua. Masih banyak sekolah lain yang saat ini belum mendapatkan jangkauan MBG, jadi mereka sangat menanti kapan giliran mereka,” ujar Suhendra saat diwawancarai Kamis (29/01).
Meski demikian, operasional selama tiga bulan terakhir bukan tanpa kendala. Asisten Lapangan, Novan Arnansyah, S.M., mengakui bahwa tantangan harian selalu ada, terutama terkait adaptasi menu bagi para siswa.
“Tantangan itu setiap hari selalu ada karena status kita adalah pelayanan. Kami mengedepankan pendekatan dan pemahaman kepada mitra sekolah. Kadang ada siswa yang baru pertama kali mencoba menu tertentu, di situ peran kami melakukan koordinasi dan edukasi bahwa menunya sudah disusun sesuai standar gizi,” jelas Novan.
Terkait polemik lainnya pada isu pengangkatan petugas MBG menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang memicu kecemburuan guru honorer, hasil penelusuran menunjukkan adanya batasan yang jelas.
Kabar yang menyebutkan seluruh pekerja dapur akan otomatis menjadi PPPK ternyata tidak sepenuhnya akurat.
“Sedikit informasi yang kami tau, status PPPK di lingkungan SPPG hanya diperuntukkan bagi posisi Kepala SPPG. Itu pun didapatkan melalui proses seleksi yang cukup panjang,” kata Suhendra.
Berdasarkan informasi yang didapatkan melalui wawancara, mereka yang diproyeksikan mendapat posisi tersebut adalah individu yang telah lolos tahapan seleksi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3 tahun 2025 yang sudah dimulai sejak April tahun lalu. Artinya, posisi tersebut diisi oleh tenaga profesional yang telah melewati penyaringan ketat, bukan pengangkatan massal bagi seluruh tim operasional.
Meskipun isu keadilan kebijakan antara sektor pendidikan dan pelayanan gizi terus bergulir di tingkat pusat, operasional di dapur-dapur MBG seperti di Teluk Betung Timur tetap fokus pada misi utama yakni memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi optimal dengan perbaikan gizi dapat dirasakan secara merata.
Reporter: Athirah Irbah Izzetya
Editor: Euis Astrid Khofifah
