Lonjakan Harga Plastik: Tekanan bagi UMKM, Peluang bagi Inovasi

Ilustrasi Toko Plastik. Sumber Foto : Rajarak.co.id

Kenaikan harga plastik yang belakangan dirasakan di Lampung bukan sekadar angka dalam transaksi. Bagi sebagian pelaku usaha, ia hadir sebagai beban yang diam-diam menggerus margin keuntungan.

Di tengah aktivitas usahanya, Adi, seorang pelaku UMKM di Lampung, mulai menghitung ulang kebutuhan harian. Kantong plastik yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional kini tak lagi bisa didapat dengan harga yang sama. Sejak Maret lalu, ia merasakan kenaikan yang cukup signifikan. Dampaknya tak hanya menambah biaya produksi, tetapi juga mulai memengaruhi harga jual produknya.

Meski pasokan masih tersedia, persoalan lain muncul di tingkat pembelian. Harga yang terus berubah membuat pelaku usaha kesulitan menyesuaikan pengeluaran. “Saat ini belum terlalu sulit mencari stok, tapi yang sulit adalah menemukan harga yang sesuai,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, pilihan untuk beralih ke bahan lain belum menjadi pertimbangan utama. Pelaku usaha masih berusaha bertahan dengan cara yang paling memungkinkan. “Kami belum mempertimbangkan alternatif pengganti. Saat ini baru sebatas memberikan charge tambahan bagi pelanggan yang membutuhkan kantong plastik lebih,” katanya.

Apa yang dialami para pelaku usaha di Lampung sebenarnya merupakan bagian dari dinamika yang lebih luas. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan pergerakan pasar hingga ke tingkat global. Aryan Danil Mirza Br, S.Pd., M.Sc., S.Ak., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, menjelaskan bahwa lonjakan harga plastik merupakan bentuk inflasi dorongan biaya ketika kenaikan harga bukan dipicu oleh meningkatnya permintaan, melainkan oleh membengkaknya biaya produksi.

Bahan baku utama plastik yang berasal dari minyak bumi ikut terdorong naik seiring gejolak global. “Ketika harga minyak dunia naik, bahan turunannya seperti resin ikut terdampak. Kenaikan ini kemudian mengalir dari produsen ke distributor, hingga akhirnya sampai ke konsumen,” ujarnya.

Rantai tersebut terus berlanjut hingga ke daerah. Harga kembali menyesuaikan akibat biaya distribusi dan logistik, sehingga akumulasi kenaikan terasa semakin tinggi di tingkat lokal.

Menurut Aryan sapaan akrabnya, kondisi ini juga diperkuat oleh struktur industri plastik yang cenderung terkonsentrasi di tingkat hulu. Produsen besar memiliki peran dominan dalam menentukan harga, sementara pelaku usaha di tingkat bawah hanya bisa mengikuti arus.

Meski demikian, kenaikan harga tidak selalu berarti tekanan semata. Dari sudut pandang ekonomi, situasi ini juga dapat memicu perubahan perilaku pasar. Aryan melihat adanya kecenderungan pelaku usaha mulai mencari alternatif, seperti kemasan kertas atau bahan lain yang lebih terjangkau.

“Sebagian pelaku usaha di Lampung sudah mulai menyesuaikan, misalnya dengan mengurangi penggunaan komponen tertentu dan mencari opsi yang lebih murah. Namun saat ini, orientasinya masih pada efisiensi biaya, belum pada aspek ramah lingkungan,” katanya.

Dalam jangka panjang, ia menilai kondisi ini tetap membuka peluang lahirnya inovasi. Beberapa pelaku usaha dengan segmen tertentu bahkan mulai mengarah pada praktik yang lebih berkelanjutan, seperti mengurangi plastik sekali pakai atau beralih ke sistem isi ulang.

“Ke depan, bukan tidak mungkin akan muncul alternatif ramah lingkungan yang lebih terjangkau dan menjadi pilihan utama masyarakat,” tambahnya.

Di tengah situasi itu, sebagian pihak mulai melihat adanya peluang menuju perubahan yang telah lama dinantikan. Pandangan ini sejalan dengan perspektif kalangan pegiat lingkungan. Bagi komunitas Lampung Sweeping Community, kenaikan harga plastik justru menghadirkan harapan baru.

Rintan Anggraini, yang aktif dalam komunitas tersebut, melihat kondisi ini sebagai momentum untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Ia menilai, dorongan untuk berubah kini tidak lagi datang dari kesadaran semata, tetapi juga dari tekanan keadaan.

“Kenaikan ini bisa jadi dorongan untuk mulai mengurangi penggunaan plastik, baik di tingkat konsumen maupun pelaku usaha,” ujarnya.

Namun, harapan itu tidak datang tanpa tantangan. Di lapangan, tidak semua pelaku usaha siap beralih. Bagi UMKM, selisih harga antara plastik dan bahan ramah lingkungan masih menjadi kendala utama. Rintan menyebut, kemasan ramah lingkungan bisa mencapai tiga hingga empat kali lebih mahal.

Penulis: Syifa Rahmadinny
Editor : Trian Dara Ega Febrina