Alhamdulillah dengan penuh haru dan rasa syukur kita telah melalui bulan Ramadan. Bagaimana kondisi diri setelah ditinggal oleh Ramadan? Apakah terasa senang karena tidak perlu menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu?
Tapi bukankah kita seharusnya justru merasakan sedih dan hampa? Tiga puluh hari lamanya yang dilalui dengan banyak rangkaian ibadah yang berpahala, tiba-tiba hilang dan harus terhenti begitu saja.
Semakin bertambahnya usia, dan semakin banyak kerusakan zaman yang terjadi, tidak cukup dengan perasaan merayakan euforia Hari Raya Idulfitri saja, tetapi bukankah yang kita butuhkan adalah semangat Ramadan di setiap waktu?
Saat ini kita berada di bulan Syawal, yang hadirnya dapat kita sambut dengan bahagia dan manfaatkan untuk kembali merayakan hari layaknya di bulan Ramadan.
Bulan ini istimewa karena di dalamnya terdapat berbagai amalan yang Allah Swt. janjikan pahala besar, yang nilainya tidak kalah dengan Ramadan. Tentu saja, ini menjadi kesempatan emas untuk menjaga bara keimanan yang masih hangat setelah ditempa selama satu bulan penuh.
Syawal bukan sekadar bulan setelah Ramadan, tetapi menjadi bulan pembuktian. Apakah nilai-nilai takwa yang telah kita latih selama Ramadan benar-benar melekat, atau justru perlahan memudar?
Selama sebulan penuh, kita telah melatih diri menahan lapar dan dahaga, meninggalkan maksiat, memperbanyak ibadah, qiyamulail, tilawah, hingga memperbaiki akhlak. Semua itu dilakukan demi meraih derajat muttaqin. Maka pertanyaannya, apa yang tersisa setelah Ramadan berlalu? Masih adakah jejak kebaikan dalam diri kita? Syawal hadir untuk menjawab itu.
Dalam bahasa Arab, Syawal berasal dari kata syala yang berarti meningkat atau terangkat. Artinya, derajat seorang hamba seharusnya semakin naik setelah berhasil melewati madrasah Ramadan.
Salah satu amalan utama di bulan Syawal adalah puasa enam hari. Sebagaimana dalam hadis disebutkan, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).
Ada baiknya mengawali Syawal dengan menjalankan puasa enam hari sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan. Ini bukan hanya sekadar tambahan, tetapi menjadi pelengkap yang menyempurnakan kekurangan selama Ramadan.
Hal ini juga diperkuat dalam hadis riwayat Tsauban, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Saum sebulan (saat Ramadan) itu disamakan dengan sepuluh bulan saum dan saum enam hari selepasnya (saat Syawal) disamakan dengan dua bulan saum, maka yang sedemikian itu menjadi genap setahun.” (HR. Ad-Darimi).
Dari sini, terlihat bahwa Syawal adalah kesempatan besar untuk kembali memanen pahala Ramadan. Bahkan, puasa enam hari ini diibaratkan seperti salat sunnah rawatib yang menyempurnakan salat wajib.
Lebih dari itu, melanjutkan ibadah setelah Ramadan adalah tanda diterimanya amal seseorang. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. Dikatakan oleh sebagian ulama, “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”.(Lathaif Al-Ma’arif). Allah Swt. akan memberikan hidayah untuk melakukan amal saleh berikutnya jika amal sebelumnya diterima.
Sebaliknya, kita juga patut khawatir. Jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang merugi, yaitu mereka yang bertemu Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan. Dalam sebuah doa yang diucapkan oleh Malaikat Jibril dan diaminkan oleh Rasulullah saw. disebutkan, “Celakalah seorang hamba yang mendapati Ramadan, kemudian Ramadan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah Taala.”
Na’udzubillah.
Karena itu, Syawal menjadi momentum untuk menjaga dan melanjutkan kebiasaan baik yang telah dibangun. Jangan sampai semangat ibadah hanya bersifat musiman.
Ada beberapa amalan yang bisa terus dijaga agar perasaan Ramadan tetap hidup dalam keseharian kita,
1. Menjaga salat tepat waktu
Salat adalah tiang agama. Jika salat terjaga, maka amalan lainnya akan mengikuti.
2. Semakin giat menuntut dan menghadiri majelis imu
Menghadiri majelis ilmu akan menjaga keimanan tetap hidup dan terarah.
3. Memperbanyak shaum dan ibadah sunnah
Termasuk puasa Senin-Kamis atau ayyamul bidh sebagai kelanjutan latihan Ramadan.
4. Memperbanyak amalan sunnah
Seperti zikir, sedekah, membaca Al-Quran, dan amal kebaikan lainnya. Pada akhirnya, Syawal mengajarkan kita bahwa Ramadan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal.
Jika Ramadan adalah proses pembentukan, maka Syawal adalah pembuktian. Apakah kita benar-benar berubah? Apakah kita tetap menjaga ibadah? Apakah hati kita masih dekat dengan Allah?
Karena sejatinya, keberhasilan Ramadan tidak diukur dari meriahnya Idulfitri, tetapi dari keberlanjutan amal setelahnya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga konsistensi dalam ketaatan, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang hayat.
Jadikan Syawal sebagai langkah awal untuk terus berjalan di jalan kebaikan, hingga suatu saat kita dipertemukan kembali dengan Ramadan dalam keadaan yang lebih baik.
Wallahu Alam.
Penulis : Athirah Irbah Izzetya
