Masyarakat di Lampung Barat kembali menggelar tradisi tahunan Pesta Sekura Cakak Buah yang rutin dilaksanakan setiap 1 hingga 6 Syawal. Tradisi ini digelar secara bergantian di berbagai pekon (desa) di wilayah Lampung Barat, sehingga setiap daerah memiliki kesempatan menjadi tuan rumah dalam perayaan tersebut.
Informasi mengenai pelaksanaan dan rangkaian kegiatan Pesta Sekura ini diperoleh dari komunitas sekura yang dihubungi melalui akun Instagram @sekura_kobes.
Pesta Sekura bukan sekadar hiburan semata, melainkan menjadi simbol kebersamaan, kegembiraan, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga setelah merayakan Hari Raya Idulfitri. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk pelestarian budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang masyarakat Lampung Barat.
Dalam pelaksanaannya, Pesta Sekura menghadirkan berbagai rangkaian acara menarik. Mulai dari parade budaya atau pawai sekura, pertunjukan seni tradisional, hingga berbagai perlombaan seperti hadra, pencak silat, bedikikh, dan ditutup dengan panjat pinang sebagai puncak acara.
Sekura sendiri merupakan ikon utama dalam tradisi ini. Secara umum, sekura terbagi menjadi dua jenis, yakni sekura betik dan sekura kamak.
Sekura betik biasanya tampil dengan busana adat yang rapi dan indah. Pakaian yang dikenakan berupa kain khas Lampung Barat seperti hinjang dan kain miwang, dengan tampilan yang bersih, menarik, dan menawan.
Sementara itu, sekura kamak memiliki karakter yang berbeda. Penampilannya cenderung acak-acakan dengan pakaian yang dibuat menyerupai kondisi kotor. Ciri khas lainnya adalah penggunaan topeng kayu dengan bentuk unik serta tingkah laku yang jenaka untuk menghibur masyarakat.
Meski sama-sama menggunakan topeng, sekura memiliki perbedaan dengan tradisi topeng lainnya. Sekura merupakan budaya khas asli Lampung Barat, berbeda dengan tuping yang merupakan tradisi masyarakat di Kalianda.
Salah satu warga Lampung Barat, Siska, mengatakan bahwa menonton Sekura sudah menjadi tradisi yang tidak boleh dilewatkan setelah Lebaran.
“Kalau habis Lebaran itu wajib nonton sekura, apalagi anak-anak. Biasanya sampai keliling kampung-kampung buat nonton, karena selain tradisi juga jadi hiburan,” ujarnya.
Melalui Pesta Sekura, masyarakat tidak hanya merayakan kebahagiaan pasca-Lebaran, tetapi juga menjaga identitas budaya lokal agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Penulis : Azka Fatiha Nasya
Editor : Euis Astrid Khofifah
