MSE.ID, Bandar Lampung — Gabungan sejumlah komunitas dan lembaga di Lampung menggelar kegiatan Ruang Bebas Uang di Taman Tugu Juang, Bandar Lampung, pada Jumat (6/3). Kegiatan ini menghadirkan konsep ruang berbagi kebutuhan tanpa menggunakan uang, transaksi, maupun relasi hierarkis antara pemberi dan penerima.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan secara gratis, seperti pakaian, makanan, lapak baca, cek kesehatan, hingga konsultasi hukum.
Ruang Bebas Uang ini diinisiasi oleh sejumlah komunitas dan lembaga, yakni Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)-LBH Bandar Lampung, PKBI Lampung, Forum Literatur Lampung, Ride Riot Lampung, dan Unstuck Power.
Salah satu penyelenggara dari Forum Literatur Lampung, Haikal, mengatakan bahwa Ruang Bebas Uang dibuat untuk membuka kemungkinan lain di luar logika pasar. Melalui ruang ini, setiap orang dapat saling memenuhi kebutuhan tanpa harus bergantung pada kemampuan membeli.
“Di tengah sistem ekonomi yang sering mengukur nilai manusia dari daya belinya, kegiatan ini mencoba membalik logika tersebut. Kebutuhan manusia tidak seharusnya selalu tunduk pada kemampuan membayar,” jelas Haikal.
Ia menambahkan, kegiatan ini berbeda dengan kegiatan filantropi atau bakti sosial yang umumnya berangkat dari rasa kasihan. Menurutnya, kemiskinan dan keterbatasan akses bukan semata persoalan individu, melainkan bagian dari struktur sosial-ekonomi yang menciptakan ketimpangan.
“Filantropi sering memposisikan sebagian orang sebagai penyelamat dan sebagian lain sebagai objek belas kasih. Ruang Bebas Uang menolak hal itu karena kita semua hidup dalam sistem yang sama yang terus memproduksi ketimpangan,” ujarnya.
Karena itu, kegiatan ini mengusung narasi “Not for Charity, This is Protest” sebagai bentuk kritik terhadap sistem ekonomi yang dinilai menghasilkan kelimpahan barang, namun tetap membuat banyak orang hidup dalam kekurangan.
“Pesan yang ingin disampaikan adalah nilai kemanusiaan tidak seharusnya tunduk pada mekanisme pasar. Solidaritas bisa berjalan tanpa logika keuntungan, dan masyarakat mampu saling merawat tanpa harus menunggu izin negara, korporasi, ataupun lembaga amal,” lanjutnya.
Partisipasi dalam kegiatan ini juga terbuka bagi siapa saja tanpa syarat status sosial maupun kewajiban memberi dalam jumlah tertentu. Masyarakat dapat menyumbangkan barang layak pakai seperti pakaian, buku, alat tulis, maupun kebutuhan lain yang masih dapat digunakan.
Selain itu, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui tenaga atau keterampilan, seperti membantu proses distribusi barang atau menyediakan layanan gratis, misalnya mencukur rambut maupun kegiatan keterampilan lainnya.
Untuk sementara, sumber pendanaan kegiatan ini berasal dari kolektif komunitas yang terlibat serta donasi publik. Para penyelenggara berharap kegiatan seperti Ruang Bebas Uang dapat menjadi ruang solidaritas yang memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Salah satu pengunjung, Rahmat, mengatakan kegiatan ini sangat membantu masyarakat.
“Pasar gratis ini bisa membantu rakyat, terutama mereka yang membutuhkan. Semoga kegiatan seperti ini bisa diadakan secara rutin agar semakin banyak masyarakat yang terbantu,” ujarnya.
Reporter : Athirah Irbah Izzetya Editor : Euis Astrid Khofifah
