Mengenal Nuzulul Quran, Peristiwa Turunnya Al-Qur’an yang Diperingati Setiap Ramadan

Foto lembar Al-Quran. Sumber Foto: wadimubarak.com

Bulan Ramadan lekat kaitannya dengan bulan Al-Quran dan interaksi manusia dengan Al-Quran pun semakin lebih sering dan banyak dari biasanya. Al-Quran diturunkan pertama kali sebagaimana dalam firman Allah,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, juga sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan sebagai pembeda.” (TQS Al-Baqarah 2: 185).

Peristiwa Nuzulul Quran bukan sekadar momentum sejarah turunnya wahyu, tetapi awal perubahan besar peradaban manusia. Dari masyarakat jahiliyah yang gelap, Islam membangun peradaban yang memimpin dunia berabad-abad lamanya.

Dikutip dari akun Instagram @barengquran, menjelaskan bahwa Nuzulul Quran bukan hanya dijadikan sekadar seremonial saja, tetapi ada hikmah dan pelajaran yang seharusnya dapat dipelajari oleh ummat muslim.

Wahyu yang pertama kali diturunkan ialah Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang berisi gugatan, wahyu tersebut diturunkan melalui malaikat Jibril di Gua Hira.

Ketika Jibril mendekap Nabi di Gua Hira dan berkata, “Iqra”. Iqra bukan sekadar perintah ejaan huruf Arab secara pasif, melainkan mandat untuk membaca dan mengkritisi realitas sosial yang menindas. Iqra menekankan perintah membaca dan kesadaran akan penciptaan manusia, bukan sekadar membaca.

Bangsa Arab saat itu mereka bukan bangsa bodoh, mereka jago bersyair, retorika, dan berjualan. Kalau hanya persoalan dapat membaca huruf atau tidak, maka Islam tidak akan menjadi revolusi.

Membaca realitasnya dengan nama Tuhan, Allah berarti kita mencabut otoritas manusia mana pun atas manusia lainnya. Saat seorang budak seperti Bilal bin Rabah membaca realitas dengan nama Allah, secara psikologis diartikan ia merdeka.

la menyadari bahwa majikannya, Umayyah bin Khalaf hanyalah manusia biasa, bukan tuhan yang berhak menentukan harga dirinya. Literasi tauhid ini menghancurkan perasaan rendah diri bagi mereka kaum tertindas dan meruntuhkan arogansi kaum penindas.

Pada masa tersebut, meski bangsa Arab dulunya jahiliyah, yang sering diartikan sebagai zaman kebodohan. Padahal sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya kalau mereka pandai bersyair, dan elit Quraisy merupakan kaum yang cerdas. Sehingga yang rusak bukanlah otaknya, tetapi sistemnya. Ada oligarki ekonomi, perbudakan yang merajalela dan patriarki yang brutal seperti, penguburan bayi perempuan hidup hidup pada saat itu.

Al-Quran pun diturunkan ditengah ketimpangan permasalahan umat. Di mana berisi perintahnya untuk memperbaiki struktur masyarakat yang rusak, kufur, maka Al-Quran hadir sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan mengenai petunjuk itu, serta sebagai pembeda antara yang hak dan batil.

Ada konsep dalam sosiologi pendidikan, literasi sejati itu bukan cuma membaca kata, tapi membaca dunia.

Sebagaimana Nabi hanya tidak hanya sekadar membaca wahyu, tapi beliau membaca situasi sekitarnya, membaca adanya kecemasan yang terjadi dimasyarakat yang tertindas dan arogansi oleh Abu Jahal, Abu Lahab dan Ummayah bin Khalaf. Inilah disebut membaca menggunakan metode berpikir kritis yang Rasul lakukan.

Di dalam Surah yang diperintahkan bukan hanya “Iqra”, tapi “Iqra bismi rabbik”, artinya bacalah dengan nama Allah. Ini adalah fondasi psikologis dari literasi pembebasan. Ketika seseorang membaca Al-Quran dengan Allah, maka tidak ada kedzaliman yang perlu ditakutkan.

Ketika Bilal melafalkan realitas dengan tauhid, “Ahad.. Ahadd” yang artinya meng-Esa kan Allah, maka secara psikologis ia menunjukan dirinya sudah merdeka.

Literasi tauhid ini menghancurkan rasa rendah diri kaum tertindas dan meruntuhkan arogansi kaum penindas.

Maka, hikmah dari diturunkannya Al-Quran dapat dipelajari dan dimaknai. Tidak hanya dan cukup sekadar dibaca, tetapi juga memahami makna Al-Quran, mempelajari, kemudian mengamalkannya.

Karena faktanya, hari ini banyak kaum muslim yang masih mencukupkan diri pada memperbanyak bacaan Al-Quran, padahal Allah menurunkan Al-Quran kepada umat manusia melalui kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw., bukan sekadar untuk dibaca, melainkan lebih dari itu, yakni untuk dipahami dan diamalkan.

Tatkala Al-Quran sekadar dibaca, kita jadi tidak memahami isi dari Al-Quran, lantas bagaimana kita dapat, hendak mengamalkannya? Bagaimana kita bisa menjadikannya sebagai petunjuk dan pedoman hidup kita?

Karena realitas kaum muslim hari ini, Al-Quran sekadar dibaca, tetapi tidak dijadikan sebagai pedoman hidup. Padahal sebagian besar hukum-hukum Allah ada di dalam Al-Quran, semua dibahas, mulai dari yang berkaitan dengan masalah politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, dan lainnya. Hari ini semua tersebut diabaikan, tidak diterapkan, bahkan didustakan dan dianggap radikal.

Semoga dengan memperingati Nuzulul Quran ini dapat membuat kita termotivasi untuk mempelajari dan memaknai Al-Quran, untuk dapat diamalkan dan dijarikan sebagai pedoman hidup. Semoga kelak Al-Quran yang kita baca menjadi mukjizat di hari akhir dan mendapatkan syafaat/penolong bagi yang membacanya selama di dunia, untuk di hari akhir kelak.

Wallahu alam.

Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah