MSE.ID, Bandar Lampung — Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung menyuarakan pentingnya perlindungan perempuan dan anak di tengah meningkatnya ketegangan konflik global, melalui Webinar Nasional yang bertajuk “Perang Dunia III: Dampak Terhadap Perempuan dan Anak” pada Selasa, (24/02/2026).
Webinar ini dilaksanakan dalam rangka Special Event Hari Keadilan Sosial. Melalui Zoom Meeting PKBI Lampung membuka ruang diskusi publik mengenai dinamika konflik global serta dampaknya terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Gaza serta wacana pembentukan Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengawasi stabilisasi dan rekonstruksi pascakonflik, yang memunculkan pertanyaan terkait efektivitasnya dalam mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Dalam webinar menghadirkan Gita Karisma, S.IP., M.Si., selaku akademisi Hubungan Internasional dari Universitas Lampung (UNILA) dan Chelsea Gabriella Szhasha, S.H., selaku Staf Advokasi dari Perkumpulan Damar Lampung.
Gita Karisma menyebut bahwa dokumen BoP belum secara spesifik menyinggung perempuan dan anak sebagai kelompok rentan dalam konflik.
“Dalam dokumen Board of Peace, perempuan dan anak bahkan tidak disebut secara spesifik, padahal mereka adalah kelompok yang paling terdampak dalam situasi konflik bersenjata,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa Data internasional juga menunjukkan banyak perempuan dan anak menjadi korban kekerasan dan pengungsian akibat konflik di Gaza. Materinya turut menyoroti peran perempuan dalam konflik, baik dalam melindungi keluarga di wilayah terdampak maupun melalui advokasi kemanusiaan di luar wilayah konflik.
Sementara itu, Chelsea menekankan pentingnya transparansi diplomasi serta perlindungan hukum bagi perempuan dan anak sebagai korban konflik. Perspektif keadilan sosial dinilai harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan perdamaian, termasuk memastikan keterlibatan kelompok rentan dalam proses pengambilan keputusan.
“Anak dan perempuan adalah kelompok paling rentan dalam situasi konflik, karena perang bukan hanya soal senjata, tetapi tentang dominasi dan kontrol yang menembus ruang hidup paling privat,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, ia menyoroti konsep keamanan manusia (human security) yang menekankan bahwa rasa aman tidak cukup dimaknai sebatas bebas dari serangan militer, tetapi juga dari kelaparan, penyakit, dan ketakutan.
Melalui kegiatan ini, PKBI Lampung menyampaikan upaya peningkatan pemahaman peserta mengenai dinamika konflik global dan dampaknya terhadap perempuan dan anak, serta pentingnya perspektif kemanusiaan dan keadilan sosial dalam upaya perdamaian.
Penulis: Athirah Irbah Izzetya
Editor: Euis Astrid Khofifah
