Lewat Program CITA, Bahas Child Grooming dan Pentingnya Kesadaran Kolektif

Movement Social Environment (MSE) melalui Instagram @movementsocialenvironment bahas Child Grooming dan pentingnya membangun kesadaran kolektif bersama Eks Ketua BEM Institut Kemandirian Nusantara via Live Instagram, Rabu (11/02). Sumber Foto: SS Live Instagram MSE

MSE.ID, Bandar Lampung — Melalui Program Cerita Kita (CITA) pada Rabu (11/02), Movement Social Environment (MSE) kembali menggelar live streaming Instagram dengan mengangkat tema “Diam atau Peduli? Peran Kita Menghadapi Child Grooming”.

Kegiatan ini menghadirkan Eks Ketua BEM Institut Kemandirian Nusantara, Farah Irodatillah, sebagai narasumber untuk membahas bahaya child grooming serta pentingnya kepedulian bersama dalam mencegah kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.

Dalam sesi tersebut, Farah menyoroti bahwa banyak korban child grooming berasal dari kalangan remaja, bahkan yang belum atau tidak lulus sekolah. Tidak sedikit yang berpacaran di usia 19 tahun, kemudian menikah dan hamil, hingga akhirnya terjerat persoalan ekonomi dan relasi rumah tangga yang tidak sehat.

“Banyak yang akhirnya tidak langgeng, karena hanya berangkat dari kepuasan dan kebahagiaan sesaat. Ini sangat disayangkan,” ujarnya.

Farah menjelaskan bahwa child grooming merupakan proses yang terencana dan manipulatif. Pelaku biasanya melakukan pendekatan dalam waktu yang panjang, membangun kepercayaan, hingga akhirnya mengeksploitasi korban secara seksual. Dalam banyak kasus, korban merasa hubungan tersebut terjadi atas dasar suka sama suka, padahal terdapat relasi kuasa yang timpang.

“Child grooming itu ada gap usia antara anak dan orang dewasa. Tentu yang dewasa lebih punya kontrol, sementara anak masih mencari jati diri. Diberi perhatian, dibuat merasa istimewa, sampai merasa dunia milik berdua,” jelas Farah.

Ia menambahkan bahwa banyak korban memiliki latar belakang kurangnya rasa aman, perhatian, atau kasih sayang. Ketika kebutuhan tersebut dipenuhi oleh pelaku, korban merasa menemukan kenyamanan yang selama ini tidak didapatkan. Namun, relasi tersebut berujung pada trauma jangka panjang.

Lebih lanjut, Farah menyinggung fenomena victim blaming yang masih kuat terjadi di Indonesia. Narasi seperti “kamu juga diam” atau “kamu juga suka” kerap dilontarkan kepada korban, sehingga membuat korban semakin tidak sadar bahwa dirinya sedang dimanipulasi.

“Korban sering tidak aware karena tidak ada edukasi dan tidak ada kesadaran di sekitar kita. Dampaknya baru terasa ketika sudah menjadi korban,” katanya.

Ia juga menjelaskan pola yang umum dilakukan pelaku, yakni menargetkan anak yang terlihat rentan, kesepian, atau kurang perhatian. Pendekatan dilakukan melalui pemberian perhatian, hadiah, hingga membangun kepercayaan. Setelah itu, pelaku akan mengisolasi korban dari orang-orang terdekat agar korban menjadikan pelaku sebagai satu-satunya tempat bergantung.

Menurut Farah, kondisi ini menunjukkan pentingnya forum diskusi dan edukasi publik untuk membangun kesadaran kolektif. Ia mengajak masyarakat untuk tidak diam terhadap kekerasan seksual dan mulai merawat empati di lingkungan sekitar.

“Yuk sama-sama kita rawat akal sehat, empati, dan kepedulian. Cukup generasi sebelumnya yang tidak teredukasi. Generasi selanjutnya harus teredukasi. Kalau sudah tahu, sebarkan. Kalau belum tahu, pelajari,” pesannya.

Melalui Live CITA ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bentuk dan bahaya child grooming, serta berani mengambil peran untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan perempuan.

Reporter: Athirah Irbah Izzetya
Editor: Euis Astrid Khofifah