MSE.ID, Bandar Lampung — Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK-LMND) Bandar Lampung menggelar aksi jahit mulut di Tugu Adipura, Bandar Lampung, Kamis (10/06/2026), menjelang kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Provinsi Lampung.
Aksi tersebut dilakukan sejumlah anggota LMND dengan menjahit mulut sebagai simbol kritik terhadap kondisi demokrasi dan situasi sosial ekonomi. Dalam orasinya, Ketua EK-LMND Bandar Lampung, Josua Sitorus, menyatakan aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi yang dinilai semakin terbatas.
“Aksi jahit mulut ini merupakan simbol demokrasi yang dijahit rapat oleh pemangku kekuasaan melalui kekuasaan peluru dan kekuasaan modal,” ujar Josua.
Ia menyebut masyarakat saat ini menghadapi sejumlah persoalan, di antaranya melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM), serta ketimpangan sosial.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, termasuk akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.
Selain itu, LMND Bandar Lampung juga menyoroti sejumlah program pemerintah, seperti Koperasi Desa Merah Putih dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai perlu evaluasi.
LMND menilai program-program tersebut berpotensi menambah beban fiskal apabila tidak disertai perencanaan dan pengelolaan anggaran yang matang.
Dalam aksi tersebut, LMND Bandar Lampung menyampaikan lima tuntutan kepada Presiden Prabowo Subianto, meliputi penerapan pajak kekayaan bagi kelompok super kaya, penyediaan pendidikan yang ilmiah, gratis, dan demokratis, penghentian remiliterisasi ruang sipil, pelaksanaan reforma agraria, serta evaluasi proyek-proyek pemerintah yang dinilai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
LMND menilai berbagai persoalan tersebut memerlukan kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat, termasuk pekerja, petani, nelayan, kaum miskin kota, dan generasi muda.
Melalui aksi ini, LMND Bandar Lampung menyatakan akan terus menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
“Mulut kami dijahit hari ini, tetapi kemarahan rakyat tidak akan pernah bisa dijahit. Suara rakyat akan terus menemukan jalannya untuk menuntut keadilan dan perubahan,” kata Josua.
Reporter : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah
