Bulan Dzulhijjah Momentum Meraih Banyak Keutamaan

Ilustrasi seseorang beribadah. Sumber Foto : Pinterest https://pin.it/4HEQp8RlB

Tidak terasa, umat Islam kembali dipertemukan dengan bulan Dzulhijjah, salah satu bulan mulia dalam Islam yang penuh dengan berbagai keutamaan. Bulan ini bukan hanya identik dengan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi momentum emas untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dzulhijah memiliki keutamaan pada sepuluh hari pertamanya. Dari Ibnu Abbas, Nabi saw. bersabda,

“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini, (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijah).” Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi saw. menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, tetapi tidak ada kembali satupun.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Bahkan amal saleh pada hari-hari tersebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Swt. Oleh karena itu, bulan ini seharusnya menjadi momen untuk kembali meng-upgrade kualitas ibadah dan memperbaiki diri.

Sebagian orang mungkin hanya memandang Dzulhijjah sebagai bulan haji atau hari raya Iduladha semata. Padahal, di balik itu semua terdapat kesempatan besar untuk memperbanyak pahala dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah Swt. Dzulhijjah adalah momentum untuk kembali menghidupkan semangat ibadah yang mungkin mulai menurun setelah Ramadan berlalu.

Menurut Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam buku Ramadhan planner oleh Kmpro, menyampaikan terkait amalan utama di awal bulan Dzulhijah yang sangat spesial ini bukan hanya pelaksanaan ibadah haji atau qurbannya tetapi di 10 hari pertama bulan dzulhijjah adalah waktu yang Allah cintai terhadap amal-amal sholeh yang dilakukan hamba-Nya. Yuk kita manfaatkan semangat beribadah dengan mengamalkan beberapa amalan ini untuk memaksimalkan keberkahan di bulan dzulhijah.

1. Puasa
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (bulan hijriah), …” (HR. Abu Daud No. 2437).

Puasa di awal Dzulhijjah menjadi latihan untuk kembali menundukkan hawa nafsu, melatih kesabaran, dan meningkatkan ketakwaan. Terlebih puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan besar, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

2. Takbir dan Dzikir
Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan- jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.”

Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”.)

Di tengah kesibukan dunia yang sering membuat hati lalai, dzikir menjadi cara terbaik untuk menjaga hati tetap hidup. Dzulhijjah mengajarkan bahwa mengingat Allah bukan hanya dilakukan di masjid, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari.

3. Menunaikan Haji dan Umroh
Yang paling afdhol ditunalkan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.

Ibadah haji merupakan simbol totalitas penghambaan seorang hamba kepada Allah Swt. Meski tidak semua orang mendapat kesempatan berhaji, semangat pengorbanan dan ketundukan kepada Allah tetap dapat dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Memperbanyak Amalan Sholeh
Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti salat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.

Inilah saat terbaik untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti membantu orang lain, memperbaiki salat, memperbanyak sedekah, atau mulai konsisten membaca Al-Qur’an setiap hari.

5. Berqurban
Di hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan hari tasyriq disunnahkan untuk bergurban sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga simbol ketakwaan, keikhlasan, dan bentuk pengorbanan seorang hamba kepada Rabb-nya. Melalui qurban, umat Islam diajarkan untuk berbagi kebahagiaan dan peduli terhadap sesama.

6. Bertaubat
Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama.

Dzulhijjah menjadi waktu terbaik untuk melakukan muhasabah diri. Sebab sejatinya, manusia tidak luput dari kesalahan. Maka, memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri adalah bentuk kesungguhan seorang hamba dalam mencari ridha Allah Swt.

Bulan Dzulhijjah pada akhirnya bukan hanya tentang perayaan Iduladha atau sekadar rutinitas tahunan. Lebih dari itu, bulan ini adalah momentum untuk memperbanyak amal, memperbaiki kualitas iman, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Jangan sampai sepuluh hari terbaik ini berlalu begitu saja tanpa amal yang berarti. Karena bisa jadi, inilah kesempatan terbaik yang Allah berikan untuk menghapus dosa, mengangkat derajat, dan memperberat timbangan amal kebaikan kita.

Mari manfaatkan bulan Dzulhijjah dengan sebaik-baiknya. Perbanyak ibadah, jaga hati, kuatkan niat, dan jadikan momen ini sebagai langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, amal-amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas di sisi Allah bisa menjadi sangat besar nilainya.

Wallahu Alam

Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah