Di Balik Hari Kartini: Menyibak Makna Perjuangan Perempuan dalam Perspektif Islam

Ilustrasi Muslimah melakukan Aksi dalam protes menentang larangan hijab di negara India, mencontohkan perempuan memperjuangkan hak dan kemuliaannya. Sumber Foto: voanews.com

Setiap tanggal 21 April, kebaya-kebaya kembali dikenakan. Sekolah-sekolah dipenuhi warna-warni busana tradisional, dan nama Raden Ajeng Kartini kembali disebut dengan penuh hormat. Hari itu bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat akan satu sosok perempuan yang pernah bermimpi tentang dunia yang lebih terbuka bagi kaumnya.

Sejak ditetapkan sebagai hari nasional melalui keputusan Soekarno pada 1964, Hari Kartini terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Ia menjadi simbol kebangkitan perempuan Indonesia tentang keberanian untuk belajar, berpikir, dan melampaui batas zamannya.

Namun, di tengah arus modernitas, persoalan perempuan belum benar-benar usai. Akses pendidikan yang belum merata, hingga kasus kekerasan dan pelecehan yang masih terjadi di ruang publik. Bahkan di lingkungan pendidikan menjadi catatan yang tak bisa diabaikan. Di sinilah, makna Hari Kartini kembali dipertanyakan: sejauh mana perjuangan itu telah sampai?

Bagi Winda, seorang aktivis dakwah kampus, Kartini bukan sekadar ikon emansipasi. Ia melihat Kartini sebagai sosok perempuan yang haus akan ilmu, termasuk ilmu agama. Semangat belajar itu, menurutnya, menjadi warisan penting yang sering kali luput dimaknai secara utuh.

“Perempuan hari ini tidak hanya menghadapi persoalan kesetaraan,” ujarnya. “Banyak yang justru menjadi korban dari sistem kehidupan yang menjadikan perempuan sebagai objek ekonomi.”

Dalam pandangannya, sistem modern seperti kapitalisme dan sekularisme turut berkontribusi pada lahirnya berbagai bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Di titik ini, ia menilai pentingnya melihat kembali posisi perempuan melalui kacamata Islam.

Dalam Islam, kata Winda, perempuan ditempatkan pada posisi yang mulia. Kehormatannya dijaga, hak-haknya diatur, dan perannya diakui, baik di ranah domestik maupun publik. Ia meyakini, ketika sistem yang menaungi berjalan sesuai dengan nilai-nilai Islam, perempuan tidak perlu lagi memperjuangkan pengakuan atas haknya.

“Islam sudah mengatur semuanya secara jelas. Perempuan hanya perlu memahami itu secara menyeluruh,” katanya

Pandangan serupa datang dari Riyani, aktivis dakwah kampus lainnya. Namun, ia mengajak untuk melangkah lebih jauh, meninjau kembali cara masyarakat memahami Kartini itu sendiri.

Selama ini, Kartini kerap ditempatkan sebagai tokoh feminis dan pelopor emansipasi perempuan. Tapi menurut Riyani, label tersebut perlu dikaji ulang.

“Tidak semua perjuangan perempuan harus dilihat dalam kerangka feminisme,” ujarnya.

Ia menyinggung kemungkinan bahwa pemikiran Kartini justru banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai keislaman. Bahkan, menurut beberapa pandangan, karya terkenalnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, disebut-sebut terinspirasi dari ajaran Al-Qur’an yang pernah dipelajarinya.

Bagi Riyani, perjuangan Kartini lebih dekat pada upaya membuka akses pendidikan bagi perempuan, bukan semata-mata mendorong kesetaraan dalam pengertian modern.

“Yang diperjuangkan Kartini adalah agar perempuan bisa belajar, bisa berkembang,” jelasnya. “Dan itu tidak harus selalu dimaknai sebagai feminisme.”

Di tengah berbagai tafsir itu, satu hal yang tetap terasa relevan: perempuan masih membutuhkan ruang aman, pendidikan yang layak, dan penghormatan atas martabatnya. Bagi Riyani, inilah inti dari semangat Kartini yang perlu terus dijaga.

Hari Kartini, dengan demikian, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang refleksi—tentang apa yang telah dicapai, dan apa yang masih harus diperjuangkan.

Di balik kebaya dan perayaan, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam: sudahkah perempuan benar-benar merdeka dalam arti yang sesungguhnya?

Bagi sebagian muslimah, jawabannya mungkin terletak pada satu hal sederhana namun mendasar ilmu. Dari sanalah, peran perempuan dalam membangun peradaban dimulai: melalui akhlak, pemahaman, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Dan mungkin, di situlah semangat Kartini terus hidup. Bukan hanya dikenang, tetapi juga dilanjutkan.

Penulis : Athirah Irbah Izzetya
Editor : Euis Astrid Khofifah